Mendaki Semeru, gunung para dewa

Dari sebuah obrolan di suatu malam, terpetiklah sebuah ide untuk menjelajah gunung Semeru, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Akhirnya, disepakitalah keberangkatan mendaki gunung tersebut. Segala perlengkapan dipersiapkan, mulai mencari tenda hingga urusan perbekalan. Beberapa teman dihubungi untuk diajak ikut serta, namun ternyata hanya 2 orang yang bersedia ikut. Kepalang tanggung, akhirnya walaupun cuman bertiga kami berangkat juga.

Persiapan dimulai dari 9.0 (bc:sembilan kosong)* yang merupakan markas sekaligus sekretariat kami. Pagi – pagi hari dengan harapan maghrib sudah bisa mencapai Ranu Kumbolo. Perjalanan ke Semeru, dipilih dimulai dari Tumpang. Maksud hati mau naik angkutan kota menuju Tumpang, akan tetapi banyaknya perlengkapan yang dibawa dirasa membuat ribet jika harus naik turun angkutan. Apalagi kalau dari Dinoyo ke Tumpang harus oper 2 kali angkutan. Pertama dari Dinoyo bisa naik angkot LDG ato ADL setelah itu turun di terminal Arjosari dan oper dengan Angkutan berwarna putih menuju ke Tumpang.

Karena ribetnya itu, maka kami memilih untuk naik motor menuju Tumpang, berangkat dari Malang sekitar pukul 08.00 pagi kami menyusuri jalanan kota Malang menuju Tumpang. Adapun untuk mencapai Ranu Pane, yang merupakan desa terakhir di kaki gunung Semeru, dari Tumpang harus mencari angkutan yang menuju kesana. Adatnya, dalam sehari ada beberapa truk yang naik kesana untuk mengantar berbagai kebutuhan warga Ranu Pane, yang dipasok dari pasar Tumpang. Di Tumpang cukup lama juga kami menunggu kendaraan yang ke Ranu Pane. Setiap truk yang melintas kita tanyai apakah menuju ke Ranu Pane atau tidak. Cukup lama kami menunggu, sampai – sampai rasanya mau putus asa, sudah berangkat hanya bertiga, sampai siang tak satupun kendaraan yang menuju Ranu Pane.

Namun penantian kami tak sia – sia, truk yang hendak ke Ranu Pane akhirnya melintas juga. Truk terakhir hari itu. Truk mulai melaju naik ke Ranu Pane, membelah jalanan Tumpang yang sempit dan cukup banyak lubang. Di atas truk ada beberapa lelaki yang ikut naik. Truk tersebut membawa muatan cukup banyak, mulai dari barang belanjaan titipan warga seperti tahu, tempe, dan aneka lauk pauk, berbagai bahan bangunan, hingga berbagai makanan kemasan. Diatas truk, aku berkenalan dengan salah seorang warga Ranu Pane. Orang desa memanggilnya Moi, karena orangnya cukup putih, tidak seperti kebiasaan warna kulit masyarakat Ranu Pane. Moi, yang asli orang Bandung, merantau sampai Ranu Pane, dan membuka sebuah toko kelontong serta warung makan yang sederhana.

Perjalanan dari Tumpang ke Ranu Pane menyajikan pemandangan yang cukup indah. Hutan – hutan yang masih hijau dan terlihat begitu segar. Semakin jauh meninggalkan Tumpang, jalanan semakin menanjak dan udara mulai terasa dingin. Ketika barisan Gunung Bromo yang terletak di tengah – tengah lautan pasir mulai terlihat, jalanan semakin rusak, namun keindahan Gunung Bromo yang terlihat dari atas membuat perjalanan yang kurang nyaman tersebut terobati. Hamparan laut pasir yang cukup luas, dengan Gunung Bromo ditengah-tengahnya sungguh indah. Suatu bukti kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa. Ketika aku mulai mengeluarkan kamera hendak mengabadikan keindahan tersebut, asdian melarangku, dengan alasan bahwa kita nikmati saja pemandangan indah ini dengan mata kepala sendiri, jangan biarkan orang lain menikmatinya hanya dari gambarnya saja, biarkan mereka datang kesini dan menyaksikannya sendiri. Aku patuh, kamera tidak jadi kukeluarkan.

Sekitar pukul 12.30 kami tiba di desa Ranu Pane. Sengaja aku ikut truk tersebut berkeliling desa, mengantarkan berbagai kebutuhan warga yang di bawa dari Tumpang. Desa Ranu Pane cukup asri juga, sebuah desa pertanian dengan masyarakatnya yang multi agama. Namun mereka bisa hidup rukun. Masjid, gereja, dan Pura berada dalam satu desa kecil di lereng Semeru. Masyarkatnya pun cukup ramah, mereka menyapaku meski tidak ada satupun dari mereka yang aku kenal.

Satu – satunya rombongan kami yang pernah kesini adalah Fatih, dia pernah KKN didaerah Ranu Pane. Jadi beberapa masyarakat di sana cukup mengenalnya. Akhirnya oleh Fatih, kami diajak untuk mampir ke rumah salah seorang warga, Pak Misdi namanya. Beliau cukup ramah sekali. Bahkan sebelum berangkat kami sempat makan dirumah beliau, cukup mewah makanannya. Sayur lodeh, beserta telur ceplok, dan sambal. Disamping itu tak lupa tersedia pula secangkir kopi panas. Sungguh pas sekali dengan suasana dinginnya lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.

Setelah sholat dhuhur di Ranu Pane kami melanjutkan perjalanan ke Pos pertama pendakian Semeru. Pos pertama ini merupakan pos induk, jadi semua orang yang bermaksud untuk mendaki Semeru harus melapor dulu ke Pos ini, yang terletak di desa Ranu Pane. Penjaga Pos cukup ramah sekali dan memberikan pelayanan yang menyenangkan. Dalam pos ini terdapat pula peta jalur pendakian ke semeru. Kami harus mencatatkan identitas diri kami di pos ini, berikut barang bawaan kami. Petugas disana berpesan agar kami senantiasa menjaga kelestarian Semeru dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak mengambil apapun dari Semeru. Kami mendapatkan penjelasan segala sesuatu tentang Semeru, sebelum akhirnya berangkat.

Meninggalkan pos utama sekitar pukul 14.00 kami melewati beberapa bukit kecil yang lerengnya telah gundul, berubah fungsi sebagai lahan pertanian yang ditanami wortel, kubis, dan kentang. Jalanan terbentang lebar dan bagus, meskipun cukup berdebu. Namun jalan ini jauh lebih baik daripada trek pendakian ke bukit Panderman. Semakin jauh meninggalkan Ranu Pane, pemandangan berganti hutan tropis yang lebat. Pohon – pohan besar menjulang, memamerkan kegagahannya. Udara begitu segar, dan jalan semakin licin, krena udara semakin lembab. Di tengah perjalanan kami sempat berpapasan dengan pendaki dari Jakarta yang membawa sepeda naik ke puncak. Mereka bercerita bahwa ada beberapa pendaki juga yang menuju ke puncak.

Sampai di Ranu Kumbolo, penat yang ku rasakan berganti dengan kepuasan yang tidak terkira. Sungguh indah sebuah danau yang terletak beberapa ribu kilometer dari permukaan laut. Maka disana kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kami mengeluarkan perbekalan dan mulai memasak. Tak lupa kami juga mengisi botol air minum yang telah kosong. Air Ranu Kumbolo cukup segar dan menyegarkan. Tak lupa aku menyempatkan diri untuk Sholat Ashar ditepi danau. Setelah gelap, kami meneruskan perjalanan mengitari danau. Saat itu pemandangan cukup indah, bulan purnama yang cerah bayangnnya terpantul di riak – riak kecil Ranu Kumbolo. Belum lama berjalan kami sampai di Pos Ranukumbolo, disini tersedia sebuah pondok sederhana terbuat dari kayu. Ternyata disana sudah ada beberapa pendaki yang tiba terlebih dahulu, termasuk sepasang turis asal Swedia. Dari sinilah salah satu anggota kami, Asdian mulai merasakan sakit. Dia cukup kelelahan. Akhirnya kami putuskan untuk beristirahat lebih lama di pondok tersebut.

Pondok ini cukup luas juga, dengan amben yang cukup luas didalamnya, yang bisa memuat banyak orang. Didalamnya sudah ada api unggun, entah siapa yang membuatnya. Yang jelas kehadiran api unggun tersebut membuat seluruh ruangan dalam pondok itu terasa begitu hangat.

Nekat

Entah pikiran yang teramat bodoh atau semangat yang terlalu berlebihan, baru istirahat sebentar di Ranu Kumbolo, kami nekat melanjutkan perjalanan menuju kalimati. Baru beberapa meter mendaki bukit di belakang pondok Ranu Kumbolo, asdian sudah terlihat tidak mampu lagi meneruskan perjalanan. Kelelahan yang teramat sangat telah menyergapnya. Sunguh tak disangka dia meminta untuk ditinggalkan saja di Ranu Kumbolo, akan tetapi saya dan fatih tidak setuju dengan rencana tersebut. Akhirnya perjalanan tetap kami lanjutkan dengan membagi beban, tas carrier asdian saya bawa bergantian dengan fatih. Setelah melewati Oro-Oro Ombo, sebuah padang pasir yang cukup luas dengan banyak rumput – rumput liar yang tumbuh, dan dikelilingi oleh bukit – bukit dengan hutan cemaranya, sungguh pemandangan yang cukup indah.

Melewati Oro – oro Ombo, kami memasuki sebuah hutan cemara yang cukup lebat dengan rumput – rumput liar yang cukup tinggi. Setelah berjalan cukup jauh didalam hutan cemara, kami yang tidak ada satupun pernah mendaki Semeru, mulai takut tersesat. Karena jalanan setapak yang kami lalui sudah mulai kabur ditumbuhi rumput – rumput yang tinggi. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan tenda di pinggir jalan setapak tersebut. Waktu menunjukkan sekitar pukul 22.00 kami mulai mendirikan tenda, dan beristirahat.

Pagi hari sekali kami mulai memasak mie instan, makanan andalan bagi kami. Dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah istirahat semalam dalam kondisi suasana yang mencekam, tenaga saya terasa bisa pulih kembali.

Akan tetapi hanya beberapa meter melangkahkan kaki, asdian tampak semakin tidak kuat untuk meneruskan perjalanan. Dengan sabar kami melanjutkan perjalanan yang mulai melambat. Beberapa rombongan lain yang tadi malam bertemu di pondok Ranu Kumbolo, menyalip kami. Dengan semangat yang membara, akhirnya tiba juga kami di Kalimati, setelah berjuang menembus hutan Cemoro Kandang.

Cemoro kandang, mungkin sesuai dengan namanya, Kandang Cemara. Merupakan hutan cemara yang cukup lebat, banyak sekali dijumpai burung – burung. Serta merta kicauannya serasa membakar semangat kami untuk senantiasa melangkahkan kaki ini. Setapak demi setapak akhirnya kami keluar dari Cemoro Kandang dan sampai di Kalimati, disana ternyata sudah cukup ramai sebuah rombongan besar yang telah turun dari puncak Mahameru.

Di Kalimati, yang merupakan perpaduan antara padang pasir dengan rumput – rumput serta beberapa pohon cemara, kami beristirahat sejenak. Disamping itu di dekat Kalimati juga terdapat sumber air tawar Sumber Mani. Kalau dari arah Cemoro Kandang, bisa mengambil arah kanan, menyusuri pinggiran hutan Kalimati, akan menemukan batuan besar yang terjal sebelum menemukan Sumber Mani.

Air di Sumber Mani cukup jernih dan lumayan melimpah, mengingat daerah sekitarnya yang terasa sangat terik. Di sumber Mani, kami sempatkan cuci muka sepuasnya karena ini merupakan mata air terakhir sebelum pendakian ke Puncak Mahameru. Ketika kaki – kaki dibasahi oleh air dingin pegunungan, serasa segala penat lenyap seketika. Tebing – tebing batuan yang curam dan pohon – pohon cemara yang hijau menambah indahnya pemandangan sekitar Sumber Mani. Setelah mengisi persediaan air di Sumber Mani, kami meneruskan perjalanan.

Tujuan berikutnya adalah Arcopodo. Jalanan yang ditempuh semakin curam, dengan tanjakan yang cukup membuat kaki ini serasa lumpuh. Perjalanan menjadi begitu sulit ketika debu – debu berterbangan cukup banyak. Sebuah kesalahan ketika kami tidak membekali diri dengan kacamata, sebagai pelindung dari terpaan debu. Perjalanan menanjak dengan kemiringan sekitar 50 derajat hampir – hampir membuat kami putus asa, belum lagi jalanan dengan jurang yang menganga disamping, siap menelan kami jika sedikit sja kurang berhati – hati dalam melangkah. Jalanan menuju arcopodo pun cukup labil dan sangat mudah longsor, untuk itu ketika melewati jalanan dengan vegetasi terakhir sebelum puncak ini haruslah ekstra hati – hati.

Menjelang maghrib kami sampai di Arcopodo, suasana dingin sudah terasa mencekam. Segera kami mendirikan tenda. Angin berhembus cukup kuat di Arcopodo, keadaan diperparah dengan hujan pasir yang cukup lebat. Sampai-sampai kamipun tidak bisa memasak di luar tenda. Akhirnya di dalam tenda doom yang sempit kami paksakan juga untuk memasak.

Menjelang tengah malam kami bersiap untuk melakukan pendakian ke puncak semeru. Kembali kami mengisi perut dahulu sebelum mendaki. Sementara Asdian dan Fatih mempersiapkan makanan, saya mempersiapkan perlengkapan yang dibawa ke puncak semeru. Pukul 01.30 dinihari kami mulai perjalanan menuju puncak. Hawa dingin dan oksigen yang tipis cukup membuat kami agak susah untuk bernafas. Langkah demi langkah diayun hingga kami tiba di kaki puncak Semeru. Gundukan pasir terlihat tinggi menjulang membuat ragu, bisakah jalanan seperti ini dilalui.

Jalanan pasir, dengan bongkahan batu yang cukup besar dan banyak diatas, membuat kami harus sangat waspada. Dengan kemiringan lereng yang mencapai 60 – 70 derajat dan medan yang berpasir, merupakan tantangan yang cukup berat bagi kami. Kami naik cukup perlahan, sepuluh langkah kami sudah tidak sanggup lagi, harus beristirahat. Dengan bersusah payah akhirnya sampai juga kami di Cemoro Tunggal.

Cemoro Tunggal merupakan sebuah pohon cemara yang berada di lereng semeru yang penuh dengan pasir, sekitar ada 2 atau 3 pohon disitu. Dan kelihatannya hanya pohon-pohon itulah yang ada disana. Kami beristirahat agak lama di Cemoro Tunggal. Karena energi kami benar-benar terkuras. Di kejauhan nampak para pendaki lain menyusul kami menuju ke puncak.

Dari Cemoro Tunggal kami melanjutkan perjalanan bersama – sama dengan tiga orang pendaki dari Yogyakarta. Pendakian ini di rencanakan sebagai pendakian terakhir bagi mereka yang sudah menjelajah gunung-gunung di pulau jawa.

Kembali kami merangkak, menyusuri lereng pasir yang terjal dan dingin ini. Setiap kali kucari batu-batu besar untuk berpegangan, ketika tersentuh tangan rasanya begitu dingin, seperti sebongkah es raksasa. Namun dengan semangat membara kami terus merangkak menuju puncak.

Pukul 05.20 sampailah kami di puncak, sungguh terdapat suatu perasaan yang sangat luar biasa ketika hal itu terjadi. Untuk beberapa saat aku terdiam, mensyukuri pencapaian itu, hingga tertunduk dan melakukan sujud syukur. Sungguh Maha Besar Allah yang telah menciptakan alam dengan begitu indahnya.

Hamparan gunung-gunung disekitar Semeru terlihat cukup jelas. Hanya gunung bromo dan gunung batok yang kukenali dari begitu banyaknya gunung yang ada di sekitar Semeru.

Angin berhembus cukup kencang sekali. Menurut http://khatulistiwa.info/gunung/3-semeru-dan-mahameru.html kecepatan angin di semeru mencapai 0-30 knot. Cukup kencang. Membuat udara yang terbaca di termometer kami menunjukkan angka 4 derajat celcius.

Perasaan aneh melanda di puncak semeru. Hawa yang dingin, hembusan angin yang kencang, serta keindahan alam yang menakjubkan, membuatku serasa berada di dunia lain. Diatas puncak ini juga kami menemukan sebuah batu peringatan untuk mengenang Soe Hoek Gie, tokoh pergerakan mahasiswa yang meninggal di semeru.

Dari atas puncak juga terlihat kawah Jonggring Saloka, yang menyemburkan asap tebalnya. Terbersit suatu hasrat untuk mendatanginya, namun rasanya tidak mungkin. Karena sungguh suatu tindakan yang berbahaya. Tak berapa lama di puncak, akhirnya kami memutuskan untuk turun.

Ada suatu keengganan yang kuat ketika harus meninggalkan puncak Semeru. Teringat perjalanan panjang untuk mencapainya, serta pemandangan yang menakjubkan dari atas sana. Hmm…semoga saja suatu saat aku bisa kembali lagi kesana.

Perjalanan turun, tidaklah terlalu sulit. Namun, perjalanan siang hari itu juga cukup menguras energi, disamping kami harus berjuang melawan sengatan matahari yang terasa membakar. Sampai di Ranu Kumbolo kami beristirahat sejenak untuk makan. Sebelum akhirnya meneruskan perjalanan. Lagi – lagi kami nekat untuk meneruskan perjalanan juga, meskipun hari telah gelap.

Malam hari sampailah kami di Ranu Pane. Langsung saja kami menuju rumah Pak Misdi. Pak Misdi langsung saja menyediakan makanan buat kami. Ah, sungguh sangat baik orang ini menurut saya. Malam itu juga kami menginap di rumah Pak Misdi. Sungguh snagat nikmat sekali ketika kurebahkan diriku di kasur, dan menenggelamkan tubuhku dalam selimut. Hingga pagi datang.

Pagi hari setelah sarapan, kami menyerahkan semua sisa – sisa perbekalan kami kepada Pak Misdi. Tak lupa juga kami berfoto bersama dengan keluarga Pak Misdi. Akhirnya dengan menumpang truk sayuran lagi kami menuju ke Malang. Sungguh suatu perjalanan yang menyenangkan. Semoga suatu saat bisa terulang kembali.

Iklan

26 thoughts on “Mendaki Semeru, gunung para dewa

  1. ariefmawardi berkata:

    Jalur Tumpang Ranu Pane , aku tau sampe ranu Pane Thok, gak sampe Semeru, soale gak niat mendaki puncak, tapi melok truck njokok sayuran .. .. ..

  2. anak kandang berkata:

    iyo, aku munggahe yo ikut numpang truck yang nganter sayuran…memang hanya itu kendaraan umum yang naik ke atas…

  3. bdkkampung berkata:

    Salam saudara…
    Saya dari malaysia..mau info berkaitan log pendakian gunung semeru kerana pada bulan november saya bersama kumpulan seramai 20 orang dari malaysia mahu mendaki gunung semeru…boleh engak e-mail sama saya???

  4. anak kandang berkata:

    Salam juga sobat..maaf baru sempat reply karena masih ada kesibukan….siap infonya saya kirim ke e-mail saudara….

  5. ojan berkata:

    berita bagus.. mantap..
    mas, bisa ngga kasih info lebih detil tentang sumber mani? rencananya kami akan mendaki semeru di tahun ini… terima kasih banyak sebelumnya..

  6. anak kandang berkata:

    Nanti masnya kalo udah sampai di kalimati ambil kanan saja, kalau ke kiri itu arah yang ke arcopodo…ndak jauh kok dari sana…nanti di kanan jalan ada mata airnya….jalannya agak terjal menurun….

  7. anak kandang berkata:

    bener banget mas….pengalaman berpetualang memang tak akan habis untuk di bagi, begitu indah untuk dikenang….salam rimba…..!!!

  8. GAFFER berkata:

    Salam rimba…
    Bravo buat teman2 yang telah menginjakan kakinya di puncak semeru… rindu juga dg mahameru setiap baca kisah perjalanan teman. Tahun 1988 saya pertama kali bisa bersahabat dgn semeru..saat itu saya mendaki berdua dg BOWO..sekarang diusia kepala 4 ingin rasanya nostalgia di puncak meru…

  9. anak kandang berkata:

    Amin…semoga sukses dan lancar petualangan menuju atap pulau jawa .. 😀
    emang udah di buka mas?informasi terakhir yang saya dapat, selama musim penghujan ini masih ditutup…..

  10. Mawardi berkata:

    Untuk Update situasi terakhir Taman Nasional Semeru-Bromo, silahkan add Glemboh Koko di FB, Beliau Petugas lapangan yang sering nyetatus di FB, lebih sering on line.

    Selamat Mendaki,
    Hati hati di perjalanan !

  11. anak kandang berkata:

    Mantap…..turut senang mas…..!!!
    semoga petualangannya mengasyikkan, dan banyak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan….
    Jaga Hati Jaga Kondisi Tetep Semangat….!!!

  12. adi adhana berkata:

    wah seru banget baca pengalamannya nih.
    jadi pengen kesana.
    insya allah akhir tahun ini saya sama sanak” berangkat kesana dari jakarta.
    abis baca pengalaman kalian bisa jadi refrensi kita nih jadi kita tahu kondisi” disana.
    thanks ya udah share pengalaman kalian n minta doa’a supaya kita selamat sampai tujuan dan balik tujuannya.
    thanks yah…..

  13. anak kandang berkata:

    Sama sama mas….semoga selamat pulang dan pergi, mendapatkan pengalaman, menikmati karya Tuhan, lukisan alami….
    Salam..

  14. mufidah berkata:

    mas kalo buat yang pemula gitu gimana mas? aku rancana pengen ke semeru.. apa aja yah harus disiapin?

  15. anak kandang berkata:

    yang jelas fisik harus oke, trus mental juga di persiapkan, untuk perbekalan, bawa seperlunya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s