Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka (2-habis)

(Sambungan Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka 1)

Karya apa yang paling menarik baginya?

Jawabnya tanpa ragu, “Ramayana dan Sasana Sunu.” Mengapa? “Bagi saya, ajaran yang terdapat dalam Sasana Sunu itu ditambah pula dengan ajaran dari kitab Ramayana, sudah cukup untuk bekal hidup lahir dan batin. Ada pun jalan cerita Ramayana baik sekali, banyak pelajarannya, indah-indah perhiasannya, lagi gagah bahasanya. Seumur hidup belum pernah saya membaca kitab Jawa yang menyamai Kitab Ramayana dalam hal bahasanya.”

Dalam Kitab Sasana Sunu terdapat 12 ajaran, diantaranya: Orang hidup harus ingat bahwa dia dijadikan manusia oleh Tuhan, bahwa dia diakruniai makan serta pakaian, bahwa cara memperoleh penghasilan itu harus dengan tenanganya sendiri. Selanjutnya dikemukakan pula perihal sopan santun pergaulan hidup, cara berpakaian, berteman, menghormat tamu, mengeluarkan tutur kata dan pikiran serta menjadi orang besar atau kecil.

Prof. Dr. R.M. Soetjipto Wirjosoeparto dan Prof. D.R. R.M. Koentjaraningrat adalah murid-murid Pak Poerba di zaman Jepang. Sambil bekerja di Museum Surakarta mereka menerima pelajaran Jawa Kuno dan Sansekerta dari Pak Poerba. Kemudian Prof. Soetjipto pindah mendalami ilmu sejarah, sedangkan Prof. Koenjaraningrat mengambil jurusan antropologi.

Ketika Universitas Gajah Mada di Yogya membuka fakultas sastra, Pak Poerba diminta menjadi ketua Fakultas dan mengajar Jawa Kuno serta anak cabang ilmu tersebut. Kemudian Universitas Indonesia pun meminta Pak Poerba menjadi Dekan Fkultas Sastra di Jakarta dan ketika pemerintah membuka Fakultas Sastra Udayana di Bali, Pak Poerba pindah ke Bali untuk merintis pembukaan fakultas tersebut di sana. Bahkan perpustakaan pribadi mahaguru tersebut diserahkan kepada Udayana, dengan mendapatkan ganti jasa sekedarnya.

Tahun 1957 Pemerintah India mengundang Pak Poerba ke India untuk menghadiri peringatan Buddha Jayanti. Peristiwa tersebut merupakan salah satu lembaran bahagia dalam kehidupannya. Kepuasan yang lain terletak pada kemampuannya untuk menerjemahkan buku-buku indah penuh pelajaran mulia seperti Ramayana, Arjunawiwaha, Suluk Wijil, Dewa Ruci.

“Orang lain juga bisa,” sambungnya. “Tetapi saya amat mendalami buku-buku itu, pikiran dan jiwa saya terbenam dalamnya.”

Mahaguru ini merasa kecewa sekali karena beberapa hasil karyanya secara sengaja atau tak sengaja telah dijiplak orang lain. Antara lain terjemahan Ramayana dan Arjunawiwaha.

Sebagai tanda penghargaan dari murid-murid Prof. Dr. Poerbatjaraka, Fakultas Sastra Universitas Indonesia tidak lama lagi akan menyerahkan suatu bunga rampai karangan tentang jasa mahaguru mereka dalam bidang ilmu.

Maka saya datangi Prof. Dr. R.M. Soetjipto Wirjosoeparto, salah seorang murid Pak Poerba yang kini dekan Fakultas Sastra UI. Sebagai seorang sarjana, apakah keistimewaan dan jasa Pak Poerba?

Tuturnya, “Seorang otodidak yang besar, seorang genius dalam memberikan interpretasi akan naskah-naskah kuno baik berupa buku maupun prasasti-prasasti. Interpretasinya bukan saja diberikan berdasarkan pengetahuannya dalam bahsa dan sejarah, tetapi juga dengan intuisi dan perasaan yang tak dimiliki sarjana-sarjan Eropa.”

Sebagai contoh dikemukakan interpretasi Prof. Poerbatjaraka tentang arti Chandrabhaga dalam Prasasti Tugu, dekat Tanjung Priok, yaitu prasasti tentang Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara. Dalam prasasti itu disebutkan adanya Sungai Chandrabhaga. Chandra atau candra artinya bulan, bhaga berarti bagian.

Kata Sansekerta lain untuk bulan ialah çaçin sama dengan sasi, bulan. Kalau candra diganti çaçin sama maka menjadi çaçinbhaga, shasinbhaga. Dalam bahasa Jawa kata majemuk berasal dari kata Eropa atau Sansekerta sering dibalik raja putra menjadi anak raja. Shasinbhaga ini pun dibalik menjadi Baghashasin,yang lama-lama menjadi Bagasasi, menjadi Bagasi, akhirnya menjadi Bekasi.

Diuraikan pula teori Prof. Poerbatjaraka tentang datering (kapan ditulisnya) Buku Ramayana dalam bahsa Jawa Kuno. Prof. H. Kern yang kemudian diikuti oleh Dr. Stutterheim dan sarjana-sarjana lin beranggapan, Ramayana Jawa Kuno berasal dari zaman Kediri di abad XII. Pendapat tersebut disanggah oleh Prof. Poerbatjaraka. Bukan abad XII melainkan antara ahun 820-832 di zaman pemerintahan Dyah Balitung.

Penyelidikan tersebut berdasrkan perbandingan bahasa dan perbandingan dengan tulisan-tulisan pada batu dan tembaga dari zaman itu. Hipotesa ini dibuktikan kebenarannya oleh Dr. J. G. De Casparis, ketika dalam kamp interniran Jepang dia berhasil membaca sebuah prasasti bersyair yang berasal dari tahun 856. Baik bahasa maupun syair-syairnya sama dengan bahasa dan kakawin Ramayana.

Intuisi Prof. Poerbatjaraka tajam. Misalnya dia menguraikan asal kata “kesejahteraan” dari kata sacattra artinya: dengan (perlindungan) payung, jadi aman, sentosa,sejahtera. Seharusnya Prof. Poerba menjadi mahaguru dalam ilmu etimologi.

Prof. Dr. Prijono menamakan Pak Poerba “een lopende encyclopedie”, ensiklopedia berjalan. Karena selalu siap menjawab setiap pertanyaan dalam bidangnya dan jawaban itu bukan sembarang jawab, melainkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Banyak orang Indonesia tak dapat menangkap makna dan rasa yang terkandung dalam buku-buku kesusasteraan Indonesia. Sewaktu memberikan kuliah, tidak jarang Pak Poerba menangis terharu oleh keindahan gaya bahasa dan keluhuran ajaran yang tersimpan didalamnya.

Ia pun seorang guru besar yang pandai memberikan contoh-contoh konkrit. Seorang bekas muridnya masih ingat adegan ketika Pak Poerba menerangkan arti menggonggong. Anjing menggonggong sekarang berarti menyalak. Asal mulanya tidaklah demikian. Pak Poerba membanting slepen (dompet tikar untuk rokok) ke atas meja, lalu digigitnya dan lari mondar-mandir di depan kelas sambil berkata, “Inilah asal mulanya arti menggonggong. Bukan menyalak, tetapi melarikan dengan mulut.”

Prof. Poerbatjaraka biasanya memberi kuliah tanpa membawa buku. Tidak jarang dua jam kuliah hanya membicarakan asal usul sebuah kata.

“Ssst diam …,” kata mahaguru bekain itu sambil mengarahkan daun telinganya keluar. Para Mahasiswa keheranan, apa yang didengarkan. “Hur ketekuk, hur, ketekuk …”. Komentar mhaguru tersebut, “Oh, masih nyaring suaranya.” Maka kuliah pun dimulai.

“Kalau kamu lihat Borobudur, apa yang kamu lihat?” tanya Pak Poerba kepada seorang mahasiswa.

Jawabnya, “Batu, Pak!”

Kontan reaksi yang bertanya, “Kepalamu itu batu.” Ini bukan humor, ini ungkapan pribadi Pak Poerba.

Selalu cespleng kata-katanya, terus terang dan seperti kata orang yang kenal baik dengannya, sukar dikendalikan.

Mas Saimin Susadjat Mitawaluja sudah 40 tahun bekerja di Museum Jakarta. Dulu sebagai pembantu pribadi dan sopir Pak Poerba, kini bertugas dalam bidang reparasi benda-benda peninggalan museum.

Tanggapannya tentang Pak Poerba?

Pak Poerba taat membawa adat keraton. Jika akan berpakaian, sampai saat ini, harus dibantu oleh orang lain. Bicaranya sok glogok, tak segan-segan mempergunakan kata-kata yang menyinggung seks tpi hatinya murah. Siapa saja datang bertanya, selalu diberi tahu panjang lebar. Ia tidak memonopoli ilmu pengetahuan.

Mas Saimin masih terngat zaman muda ndoro Poerbatjaraka. Beskap putih, selop, kain, ikat kepala Solo, tampan berkumis, beringas dalam sikap. Rokoknya kretek klobot dimasukkan dalam dompet tikar alias slepen. Kegemarannya nasi tim, dendeng ragi, nasi gudeg, dan tertarik sekal pada gamelan.

Lesijan Kodrat Poerbapangrawit adalah adik lelaki Pak Poerba. Masih ada tiga lagi saudaranya, sebab semuanya lima. Itu dari satu ibu, Mas Ajeng Semu yang kecuali gemar buku-buku sastra juga pandai memasak. Sampai-sampai Sunan P.B. X pun tertambat seleranya. “Oh, ini masakan Semu, pantas lezat. Lidahku ini tahu saja.”

Apa kata Pak Kodrat tentang kakaknya?

“Mas Poerba itu welasan, penuh rasa belas kasihan seperti ibu kami. Tak sayang-sayang memberi pertolongan baik kepada saudaranya maupun orang lain. Tetapi sekalipun lemah hati, tabah dia menderita. Ini juga seperti Ibu. Biar melarat selalu gembira, selalu menerima.” Keadan Pak Poerba sekarang ini membenarkan kesaksian adiknya.

“Mas Poerba memang seornag sarjana, mahaguru dalam bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta,” sambung Pak Kodrat, ahli gamelan dan tari Jawa terkemuka. “Tetapi diluar itu, dia mengaku kalah dari saya.” Katanya selalu, ‘Nek karo kowe, aku kalah, Kodrat. Dengan engkau, saya kalah, Kodrat. Kalah dalam kesenian memukul gamelan, mengalunkan lagu tembang, menggemulaikan tarian. Bahkan mengenai kesusasteraan Jawa Baru tidak jarang mahaguru tersebut malah bertanya kepada Pak Kodrat, yang hafl diluar kepala.

Sifat terus terang diwarisi dari ibunya, yang setelah ayah Pak Poerba mengambil selir, tidak mau lagi tidur dengan suaminya, sekalipun itu berlangsung sampai 25 tahun lebih. Kesetiaan, kejujuran, dan kemurniaan Mas Ajeng Semu akhirnya dihargai oleh R.M Tumenggung Poerbadipoera, suaminya yang seringkali menangis menyesali perilakunya di masa lampau terhadap istrinya yang setia, meskipun “harus selalu tinggal dibawah atap yang tiris.”

Kepada Tuhan pun Prof. Dr. Poerbatjaraka bersikap terus terang. Pernah dia mendapat ujian berat. Ratna Saraswati, putrinya yang sudah duduk dikelas tertinggi Lyceum dan gambarnya dicap pada mata uang 10 gulden, meninggal. Ditambah lagi zaman malaise yang mengakibatkan penurunan penghasilan Pak Poerba.

Hatinya berontak. Sering dia mengerang-erang, “Mana Tuhan, Mana Dia? Akan saya bunuh Dia!”

Kali ini pun orang Solo tersebut bisa lulus ujian. Imannya kepada Tuhan justru semakin besar. Terumuslah pandangan hidupnya, “Harus wspada ke depan, ingat ke belakang, didasari sikap mnyerah (panarima).” Kita harus berusaha seperti buku sasana sunu tetapi jika belum berhasil, kita harus tabah menyerah atas dasar kepercayaan kepada Tuhan.

Pertanyaan terakhir saya ajukan kepada Pak poerba. Apakah harapannya sekarang ini?

“Tinggal satu saja Nak, tinggal satu. Jangan sampai sisa hidup saya ini ternoda. Dan ini berat, Nak. Berat!”

Lalu dia memanggil, “Sri, Sri …” maka muncul wanita pembantunya. “Tolong carikan saputangan saya. Ke mana tadi?”

Saya tinggalkan Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka. Vitalitas tubuhnya mulai digerogoti usia tua. Tetapi daya kerja rohaninya masih kuat. Sambil berbaring di pondok berlampu teplok. Ia tidak menyesali perjalanan hidup yang telah dilalui dengan kelemahan dan kekuatan watak pribadinya. Karena dia merasa telah menghadapi tantangan hidup ini dnegan sikap perwira.

Mr. Poernadi, satu-satunya anak lelakinya menjadi Sekretaris Fakultas Hukum dan Ilmu Kemasyarakatan Universitas Indonesia. Anaknya yang lain adalah Ny. Ratna Himawati Sumarso.

Itulah Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka, sarjana sastra yang selalu memakai kain. “… karena praktis, bisa untuk duduk di kursi, bisa untuk duduk sila di lantai.” Di Eropa pun dia selalu berkain, sekalipun sinyo-sinyo sering berteriak memperolok-olok, “Chinese, Chinese …” (Intisari, November 1963)

Orang hidup harus ingat dia dijadikan manusia oleh Tuhan, bahwa dia dikaruniai makanan serta pikiran, bahwa cara memperoleh penghasilan itu harus dengan tenaganya sendiri.

R.M. Ng. Poerbatjaraka

(Disadur dari Sketsa Tokoh, Catatan Jakob Oetama di Intisari, Cetakan I April 2003, PT. Intisari Mediatama).

Iklan

2 thoughts on “Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka (2-habis)

  1. prita adhy soemarso berkata:

    Menangis haru saya membaca tulisan mengenai kakek buyut saya.. teringat fotonya bersama eyang putri Ratna Himawati yang menggendong bapak saya yg masih bayi… Luar biasa pengalaman dan pikiran2 beliau… terima kasih telah memuat tulisan ini…

  2. Charles E. Tumbel berkata:

    Ayah dari Almarhum nenek saya bernama Lesjnar Purbokusumo dan memiliki saudara yang bernama Purbosaputro. Saya tidak tahu persis apakah buyut saya juga saudara dari Prof. DR. RMNg. Lesja Purbotjaroko, tapi konon buyut saya juga punya saudara yang bernama sama. Ibu nenek saya seorang Indo-Belanda yang berasal dari Banten, Suzanne Caroline de Nijs. Mungkin ada yang bisa membantu menemukan hubungan yang lama terputus.
    Terima kasih.CET

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s