Pemerintah Berencana Menghentikan Impor Bebek Dari Malaysia

Bebek sumber foto: produknaturalnusantara.com

Peluang usaha budidaya bebek kini terbuka semakin lebar. Pasalnya, pemerintah berencana menghentikan impor bebek dari Malaysia. Seperti diwartakan oleh Medanbisnis, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, awal pekan depan berencana mengeluarkan SK tentang penghentian impor unggas dari Malaysia.

Direktur Kesehatan Hewan, Fajar Sumping dan pejabat Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Agung Suganda membenarkan perihal tersebut. Menurut Direktur Keswan, sebagai bentuk penerapan prinsip kehati2an sesuai peraturan akan dilakukan penutupan sementara sambil menunggu perkembangan. Sedangkan Agung Suganda menyebutkan impor bebek dari Malaysia sudah distop dan peternak dalam negeri perlu mengantisipasi permintaan pasar.

“Diharapkan para peternak unggas lokal, khususnya bebek di dalam negeri bisa mengisi kekosongan pasar, terutama untuk kuliner premium maupun warung-warung yang khusus menyediakan sajian bebek,” kata Ketua Umum DPP Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli), Ade M Zulkarnain dalam keterangan tertulis, Minggu (12/3).

Penjualan Sapi Produktif Masih Terjadi?

Penjualan sapi di kupang

Sumber : Pos Kupang/Julianus Akoit

Menurut UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, khususnya pasal 18 ayat (2), yang menjelaskan “bahwa ternak ruminansia betina produktif dilarang diperjualbelikan untuk disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik. Kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan atau untuk keperluan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan.”

Adapun pelanggarnya, diancam dengan hukuman pidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 9 (sembilan) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah).

Akan tetapi fakta dilapangan penjualan ternak betina produktif masih terjadi. Seperti di beritakan oleh Tribunnews, hal ini terjadi di Pasar Ternak Sapi Lili di Camplong, Fatuleu,Kupang pada Rabu (11/1/2017) dan Kamis (12/1/2017).

Tentunya menjadi sebuah ironi, ketika pemerintah dengan gencar menargetkan swasembada daging, namun pada kenyataan di lapangan adalah penjualan betina produktif masih marak terjadi. Bahkan menurut salah seorang calo yang tidak mau disebutkan namanya, penjualan betina produktif di pasar tersebut mencapai ratusan ekor pada setiap hari pasar.

Yos Kefi, salah satu saudagar hewan di pasar tersebut mengatakan bahwa “kesalahan bukan saja oleh pemilik sapi, tapi juga oleh pemerintah desa/keluarahan setempat. Karena membuat surat pengantar atau keterangan izin pengeluaran (penjualan) sapi betina produktif, jadi kami hanya membeli saja.”

Melihat hal tersebut maka peran pemerintah sangatlah vital dalam mengawasi secara konsisten perdagangan ternak betina produktif. Di samping itu edukasi terhadap masyarakat akan pentingnya betina produktif terhadap kelangsungan produksi peternakan juga menjadi hal yang harus terus dilakukan.

sumber 1

sumber 2

Sleman Surplus Produksi Daging Sapi

panen-pedetSeperti dilansir oleh situs Kabupaten Sleman,  saat ini Sleman sudah bisa surplus daging sapi. Menurut Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun dalam acara Tasyakuran Panen Pedet dan Sarasehan Ternak Sapi Potong, Kelompok Ternak Sapi ‘Mergo Andhini Makmur’ di Dusun Bolu, Margokaton, Seyegan pada Selasa (25/10) menyampaikan bahwa saat ini hasil produksi daging sapi dari peternak Sleman sudah surplus atau melebihi kebutuhan konsumsi daging sapi Sleman. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan daging sapi Sleman hanya mencapai 302 ton.

“Peternakan sapi potong di Sleman pada tahun 2015 berhasil memproduksi daging sapi lebih dari 1.800 ton. Sementara itu pada tahun 2016 sampai bulan September  produksi daging sapi Sleman sudah mencapai lebih dari 1.700 ton sehingga saya yakin produksi tahun 2016 akan meningkat dibandingkan dengan tahun 2015”, jelas Muslimatun.

Muslimatun berharap kondisi suplus daging sapi tersebut dapat terus ditingkatkan sehingga Sleman dapat menjadi lumbung daging sapi bagi daerah lain. Banyak program-program pemerintah yang dilaksanakan untuk mendukung peternakan sapi potong di Sleman. Program-program itu diantaranya melalui kegiatan pengembangan budidaya sapi potong, penguatan pakan induk sapi potong, penguatan pakan sapi penggemukan, inseminasi buatan, penguatan betina produktif dan lain-lain. Saya berharap program dan kegiatan pemerintah untuk mendukung peternakan sapi potong benar-benar bermanfaat dan  dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peternak.

Saat ini terdapat 521 kelompok ternak sapi potong di Kabupaten Sleman, dengan jumlah peternak lebih dari 18.500 orang. Sedangkan jumlah sapi potong yang diternakkan di Kabupaten Sleman lebih dari 53.000 ekor.

Sebuah kabar yang sangat menggembirakan ditengah lesunya peternakan sapi rakyat di Indonesia, serta masih mahalnya daging sapi saat ini.

penduduk-sleman-2015Namun, apabila melihat pemaparan data diatas, dibandingkan dengan jumlah penduduk sleman yang mencapai 1.167.481 jiwa, maka konsumsi per kapita daging sapi penduduk Sleman hanya sebesar 0,26 Kg/kapita/tahun. Hal ini tentunya masih jauh dibawah konsumsi nasional yang mencapai 2,2 Kg/kapita/tahun.

Maka, kemajuan yang dicapai Pemkab Sleman dalam upayanya meningkatkan produksi sapi, juga harus di sertai dengan peningkatan konsumsi perkapita nya, agar kebutuhan protein hewani rakyat Sleman dapat terpenuhi.

Selamat berjuang…!!!