3. Semangatmu Yang Menggebu Takkan Dapat Menembus Tirai Takdir
Semangatmu yang menggebu tak akan dapat menembus hijab ketentuan Allah
Yakinkah bahwa takdir Allah itu urusanNya semata? Jika kau meyakini demikian, mengapa membuang banyak energi dan tenaga untuk mencurahkan sebuah niat dan tujuan.
Orang boleh bekerja keras, berikhtiar untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Tetapi seringkali engkau lupa bahwa di depan sana ada semacam benteng yang kokoh, yang tak seoorangpun mampu menembusnya. Benteng itu adalah hijab takdir atau kekuasaanNya.
Engkau boleh berkehendak. Tetapi kehendakmu tak akan mampu mengalahkan kehendakNya. Allah tak mau diatur oleh hambaNya yang memaksakan kehendak demi mencapai tujuan dan cita-cita.
Itulah sebabnya mengapa kita harus menanamkan itikad tentang takdir Allah. Tujuannya tak lain adalah agar manusia benar-benar menyadari bahwa daya upaya, energi dan kekuatnnya itu tak sebanding dengan kuasa Allah. Sangat kecil dan tak berarti.
Cara berpikir dan beriman semacam ini gunanya agar engkau tidak menyesal manakala tidak mampu meraih cita-citamu. Agar engkau tidak kecewa manakala menemukan kegagalan.
4. Tak Perlu Mengurus Urusan Allah
Tenangkanlah jiwamu dari urusan duniawi, sebab apa yang telah dijanjikan Allah, janganlah kamu turut memikirkannya
Apakah engkau menyadari bahwa kerisauan jiwa kebanyakan disebabkan permainan pikiran yang selalu was – was, selalu mengkhawatirkan kejadian – kejadian ‘tidak enak’ yang akan menimpa.
Orang tidak tenang karena membuang – buang energi untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok hari, lusa, setahun kemudian atau masa depannya. Ketakutan itu karena khawatir nasibnya tidak beruntung. Padahal kejadian ‘buruk’ yang dikhawatirkan itu belum tentu dialaminya.
Jika engkau selalu risau, maka pertanda kadar tawakalmu masih rendah. Padahal orang yang mengaku beriman, sepenuh jiwa dan raga disandarkan kepada Kehendak dan Kuasanya Allah SWT.
Orang – orang yang yang mempunyai ketajaman mata hati akan selalu berpegang pada surat Ath Thalaq ayat 3, “Barangsiapa yang mau bertawakal (berserah diri) kepada Allah, pasti Dia akan mencukupi kebutuhannya.”
Dengan begitu ia tidak sibuk mengurusi urusan Allah yang dia sendiri tidak pernah mengetahuinya, apakah benar – benar terjadi atau tidak pada dirinya.
Engkau telah berikrar bahwa dirimu adalah sebagai hambaNya. Jika demikian engkau haruslah menempatkan dirimu sebagai budak. Yang seorang budak tidak mempunyai hak untuk ikut campur urusan tuannya.
Jika engkau sebagai hamba kemudian ikut intervensi urusan Allah, maka tentu hal itu merupakan sikap yang tidak tahu diri. Yang demikian merupakan sikap tidak sopan.
Sebagai seorang hamba haruslah percaya sepenuh jiwa bahwa Dia menetapkan cara dan sarana penghidupan untuk memenuhi kebutuhan makhlukNya. Bukankah Rasulullah saw. Pernah bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati, pasti kamu akan mendapatkan rejeki seperti rejekinya burung yang yang ketika pagi meninggalkan sarang perutnya kosong, ketika sore hari pulang ke sarang perutnya penuh.” HR. At Turmidzi.
Oleh karena itu, kewajibanmu adalah mengikuti kehendak Allah dengan senang dan dengan itikad yang baik. Khusyuklah dalam menjalankan ibadah secara benar. Jadilah hamba yang baik, yang patuh dan tak pernah sibuk memikirkan urusanNya.
Baca Lanjutannya…