Arsip Kategori: Sandal Jepit

Berburu Madu Odeng

Madu adalah makanan yang sarat dengan protein dan bernilai gizi tinggi yang dihasilkan oleh lebah. Nah, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti para pemburu lebah hutan, yang didaerah sunda dikenal dengan nama Tawon Odeng, atau dalam bahasa ilmiahnya disebut Apis dorsata serta di Jawa dikenal dengan sebutan Tawon Gung.

addakhil/paijo

Tawon odeng atau Giant honey bee ini hidup di hutan atau di tebing – tebing yang tinggi. Beruntung oleh seorang teman, saya dikenalkan pada ‘buncis’ dan anwar. Kakak beradik pemburu madu odeng. Jadilah suatu hari saya ikut mereka untuk mencari madu odeng.
Kami harus menempuh perjalanan yang cukup seru menembus kampung – kampung kecil di daerah Sukabumi. Tujuan kami adalah hutan di wilayah desa Ciwangi, Pabuaran. Dengan naik motor saya di bonceng oleh Buncis. Cukup lihai si Buncis mengendarai motornya melewati jalan – jalan sempit dan berbatu. Menembus beberapa kampung kecil di lereng sebuah bukit, sebelum akhirnya membawa saya mendekati tepi hutan.
Kami pun menitipkan motor di halaman rumah salah seorang warga yang tinggal di tepi hutan, karena perjalanan berikutnya sudah tidak bisa lagi ditempuh menggunakan kendaraan roda dua. Saya cukup terkesan dengan kondisi sosial tersebut, begitu mudahnya si buncis memarkir kendaraannya di rumah orang yang belum dia kenal, dan si empunya rumah juga begitu ramah menyambut kami bak kawan karib.

addakhil/paijo

Akhirnya, kami berjalan menyusuri pematang sawah. Beberapa pak tani ada yang mengenali kami sebagai para pencari madu. Kami berhenti sebentar dan berbincang dengan mereka. Mereka menuturkan bahwa kemarin lusa salah seorang warga yang sedang mencari kayu, menjadi korban sengatan odeng di hutan tersebut. Sehingga harus dilarikan ke puskesmas, dan sampai dirawat disana. Merekapun meminta agar lebah – lebah tersebut diusir saja dari tempatnya yang sekarang. Si buncis meng iyakan saja permintaan beberapa petani tersebut. Read the rest of this entry

Bioskop Terakhir Di Jombang

Mungkin saya termasuk beruntung, sebagai warga kota Jombang, kami masih memiliki satu buah bioskop yang tersisa. Dimana dibanyak kota – kota yang lain bioskop – bioskop sudah pada tutup. Kini kebanyakan bioskop hanya berada di kota – kota besar yang memiliki jaringan bioskop besar macam 21, cineplex, ataupun blitz megaplex.

addakhil/paijo

Read the rest of this entry

The History Of Senior High School Party

Posted on

Berawal dari sebuah kenangan akan indahnya masa – masa di SMU, maka sekelompok mahasiswa Brawijaya, berusaha membangkitkan kenangan itu.

Ide awal dilontarkan oleh Paijo (bukan nama sebenarnya), kepada Rektor (juga bukan nama sebenarnya) yang ternyata dapet sambutan yang positif. Akhirnya ide tersebut diteruskan kepada Pepenk (sama sekali bukan nama sebenarnya) yang juga menyambut positif. Akhirnya disepakatilah untuk mengadakan acara ini pada tanggal 15 Januari 2006. Format acara saat itu belum begitu jelas, yang penting kami memakai seragam SMU dulu. Akhirnya pada hari itu, kita berkumpul di 9.0 (baca : sembilan kosong). Saat itu yang cukup bernyali untuk ikut adalah Paijo (PN 2002), Pepenk(KD 2002), Rektor (TK 2003), CNR (TP 1997), Master (TK 2005), dan Gorila.

ADDAKHIL/DOK.SHS PARTY

Read the rest of this entry

Ngeliwet, sebuah tradisi yang sarat dengan kebersamaan

Posted on

Ngeliwet adalah sebuah tradisi yang sebenarnya ada hampir di setiap daerah di pulau jawa, saya tidak tahu pasti di daerah lain, mungkin namanya saja yang berbeda. Pada dasarnya Ngeliwet adalah sebuah kegiatan untuk memasak makanan bersama, diantara teman – teman dekat atau tetangga. Berhubung ngeliwet adalah bentuk memasak nasi yang paling sederhana, maka dipilihlah bentuk tersebut untuk memasak nasi. Ngeliwet adalah memasak nasi dengan cara mencampur air dengan beras yang sudah dicuci, kemudian merebusnya di atas api sedang hingga airnya habis. Ada beberapa variasi dalam ngeliwet yang pernah saya temui. Di daerah jawa timur biasanya nasi hanya direbus begitu saja tanpa di tambahi bumbu – bumbu apapun. Namun, ketika saya di sukabumi, orang di daerah sini suka menambahkan garam, santan, daun salam, ikan teri, hingga penyedap masakan. Sehingga rasanya lebih gurih seperti nasi uduk. Hasil akhir dari nasi liwet umumnya memiliki tekstur yang lebih lembut.

addakhil/paijo

Read the rest of this entry

Mendaki Semeru, gunung para dewa

Dari sebuah obrolan di suatu malam, terpetiklah sebuah ide untuk menjelajah gunung Semeru, yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Akhirnya, disepakitalah keberangkatan mendaki gunung tersebut. Segala perlengkapan dipersiapkan, mulai mencari tenda hingga urusan perbekalan. Beberapa teman dihubungi untuk diajak ikut serta, namun ternyata hanya 2 orang yang bersedia ikut. Kepalang tanggung, akhirnya walaupun cuman bertiga kami berangkat juga.

Persiapan dimulai dari 9.0 (bc:sembilan kosong)* yang merupakan markas sekaligus sekretariat kami. Pagi – pagi hari dengan harapan maghrib sudah bisa mencapai Ranu Kumbolo. Perjalanan ke Semeru, dipilih dimulai dari Tumpang. Maksud hati mau naik angkutan kota menuju Tumpang, akan tetapi banyaknya perlengkapan yang dibawa dirasa membuat ribet jika harus naik turun angkutan. Apalagi kalau dari Dinoyo ke Tumpang harus oper 2 kali angkutan. Pertama dari Dinoyo bisa naik angkot LDG ato ADL setelah itu turun di terminal Arjosari dan oper dengan Angkutan berwarna putih menuju ke Tumpang.

Karena ribetnya itu, maka kami memilih untuk naik motor menuju Tumpang, berangkat dari Malang sekitar pukul 08.00 pagi kami menyusuri jalanan kota Malang menuju Tumpang. Adapun untuk mencapai Ranu Pane, yang merupakan desa terakhir di kaki gunung Semeru, dari Tumpang harus mencari angkutan yang menuju kesana. Adatnya, dalam sehari ada beberapa truk yang naik kesana untuk mengantar berbagai kebutuhan warga Ranu Pane, yang dipasok dari pasar Tumpang. Di Tumpang cukup lama juga kami menunggu kendaraan yang ke Ranu Pane. Setiap truk yang melintas kita tanyai apakah menuju ke Ranu Pane atau tidak. Cukup lama kami menunggu, sampai – sampai rasanya mau putus asa, sudah berangkat hanya bertiga, sampai siang tak satupun kendaraan yang menuju Ranu Pane.

Namun penantian kami tak sia – sia, truk yang hendak ke Ranu Pane akhirnya melintas juga. Truk terakhir hari itu. Truk mulai melaju naik ke Ranu Pane, membelah jalanan Tumpang yang sempit dan cukup banyak lubang. Di atas truk ada beberapa lelaki yang ikut naik. Truk tersebut membawa muatan cukup banyak, mulai dari barang belanjaan titipan warga seperti tahu, tempe, dan aneka lauk pauk, berbagai bahan bangunan, hingga berbagai makanan kemasan. Diatas truk, aku berkenalan dengan salah seorang warga Ranu Pane. Orang desa memanggilnya Moi, karena orangnya cukup putih, tidak seperti kebiasaan warna kulit masyarakat Ranu Pane. Moi, yang asli orang Bandung, merantau sampai Ranu Pane, dan membuka sebuah toko kelontong serta warung makan yang sederhana.

Read the rest of this entry

Nyetrum ikan di Sungai Cikaso

Beberapa bulan setelah pindah ke Sukabumi, untuk menghilangkan kejenuhan di mess, saya mencoba bergabung bersama teman – teman pemuda kampung saya untuk ikut mencari ikan. Ada banyak cara yang biasa dipergunakan masyarakat sini untuk mencari ikan, yang walaupun pada dasarnya hampir sama dengan di daerah lainnya. Setrum, lazim digunakan di berbagai daerah untuk mencari ikan. Di Pabuaran pun tak ketinggalan acara setrum menyetrum menjadi bagian dari kegiatan beberapa anggota masyarakat. Adapun alat yang digunakan cukup sederhana, satu box yang biasa disebut ‘mesin’ terdiri dari aki 12 V, travo, kondensator, dan sekring. Sedangkan bagian yang lainnya terdiri dari sebuah bilah besi sepanjang 1,5 m dengan pegangan dari kayu yang dilapisi potongan paralon yang berfungsi untuk menghantarkan arus listrik yang dihasilkan dari aki. Alat berikutnya adalah serok (jw) atau sair (sun), yang berfungsi untuk menangkap ikan yang terkena setrum. Alat yang dibawa terakhir adalah ember, untuk menampung hasil setruman.

Sekitar pukul 20.00 WIB kami mulai berkumpul di rumah Mang Dacem untuk mempersiapkan alat setrum. Satu persatu bagian dari alat setrum dirangkai, ember disiapkan, begitu pula lampu petromak sebagai penerang. Sekitar setengah jam berlalu persiapan kami sudah selesai. Sambil menikmati suguhan kopi, kami banyak membicarakan masalah ikan disungai, dan kondisi sungai yang akan kita lalui. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, kami mulai beranjak dari rumah Mang Dacem menuju sungai. Jalan pinggir kampung yang cukup gelap kami lalui tanpa kesulitan dengan penerangan dari petromak dan senter dari telepon genggam yang saya bawa. Keluar dari kampung, kami mulai menyusuri pematang sawah. Walaupun sedang akhir dari musim penghujan, warga sekitar aliran sungai masih juga menanam padi. Mereka menggunakan kincir air untuk mengalirkan air ke petak-petak sawah mereka.

Sampai di tujuan, kami segera turun ke sungai. Dingin menusuk, ketika kulangkahkan kaki masuk ke dalam sungai. Khas air sungai daerah dataran tinggi. Dasar sungai yang berupa batuan cadas membuatnya sangat licin, kami harus berhati hati dalam melangkah, perjalan itu semakin sulit ketika arus sungai bertambah deras.

Si Asep segera beraksi, sebagai pembawa lampu petromak dia bertugas untuk menerangi air sungai, sehingga penyetrum bisa melihat sasaran mereka. Mang Pandi segera mengarahkan setrumnya ke ikan – ikan yang terlihat. Tangan kirinya juga cukup cekatan mengambil ikan yang menggelepar terkena setrum menggunakan seroknya. Iwan, yang baru kalipertama bawa setrum terlihat kuwalahan, baginya untuk berjalan di sungai dengan dasar yang licin dan berarus deras saja sudah sangat kesusahan, ditambah lagi beban box setrum di punggungnya yang sekitar 10 kg beratnya membuat ikan – ikan yang dia setrum gagal tertangkap seroknya terbawa arus sungai yang deras.

Perjalanan kami semakin jauh menyusuri sungai, dasar suangai yang tadinya berupa cadas, kini berganti dengan kerikil – kerikil yang tajam dan lumpur. Semak – semak disekitar sungai juga semakin lebat. Gelapnya malam semakin pekat, karena kini rumah – rumah warga sudah tidak terlihat lagi. Di semak – semak sekitar sungai kami beberapa kali menjumpai ular air, tak mau ambil resiko kami segera menjauhi semak – semak. Namun adakalanya kami menemukan ular yang melintas di tengah sungai, tak tanggung – tanggung mang Pandi mengarahkan setrumnya ke ular tersebut, langsung saja ular tersebut menggeliat terkena setrum, beberapa detik kemudian ular terseut terkulai lemas tak berdaya terseret arus sungai.

Malam ini agaknya kami kurang beruntung, sampai pukul 00.30 ikan yang kami dapatkan tidaklah terlalu banyak. Lelah berjalan menyusuri sungai, akhirnya diputuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar melepas lelah. Di pinggiran sungai yang terdiri dari batuan kerikil serta beberapa batuan besar kami mulai beristirahat. Bekal roti dikeluarkan, dengan sangat bersemangat kami mulai melahapnya. Kondisi medan yang sulit, udara dingin, serta pakaian bagian bawah yang basah oleh air sungai yang dingin ternyata membuat kami benar – benar merasa kelaparan. Tidak ketinggalan kopi juga dihidangkan untuk melepaskan diri dari kantuk yang mulai menyergap, beberapa anggota rombongan memang sudah berkali – kali menguap menahan kantuk.

Dirasa cukup istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Arus suangai semakin deras dan kini sungai juga semakin dalam. Melangkahpun semakin susah. Mang Pandi dan Iwan masih sibuk menyikat ikan-ikan yang terlihat oleh mereka. Tampaknya kini Iwan sudah semakin terampil menggunakan setrumnya. Tiba – tiba lampu petromak yang di bawa mang Asep semakin meredup dan Pettt….akhirnya padam. Kami sempat panik karena berada ditengah sungai, dan keadaan gelap gulita, kami tidak bisa melihat satu sama lainnya. Setelah saya mengeluarkan senter barulah kami mulai menuju ke pinggiran sungai dan melihat kondisi petromak yang ternyata kehabisan minyak.

Dengan terpaksa, kami harus pulang karena tidak membawa persediaan minyak tanah. Dengan berat hati kami melangkah pulang karena hasil tangkapan tidaklah begitu memuaskan.

Namun, pengalaman menyetrum di sungai cikaso, tetaplah pengalaman yang sangat menarik….

Next time, beberapa kawan dari kampung tetangga sudah mengajakku untuk menjala ikan (kecrik, sunda)…

Kendaraan Ekspresif

Sewaktu perjalanan pulang ke kampung halaman melalui jalur pantura, saya memperhatikan banyak sekali hal menarik yang saya temui sepanjang perjalanan. Salah satunya adalah tulisan – tulisan yang terdapat di kendaraan – kendaraan angkutan umum seperti truk, bus, Elf, Angkudes, dsb.

Entah tulisan itu dibuat dengan maksud tertentu ataukah hanya untuk hiasan dan asal ada saja atau bagaimana saya juga belum tahu. Yang pasti ketika dalam perjalanan panjang saya menyusuri Pantura, keberadaan ‘mode’ semacam itu cukup menghibur saya. Sebenarnya yang ada bukan hanya tulisan – tulisan saja, namun juga ada yang berupa lukisan yang dikerjakan dengan teknik airbrush ataupun pengecatan biasa dengan tema yang bervariasi. Mulai yang bernuansa religi sampai dengan gambar – gambar seronok.  Yang jelas semuanya itu cukup menarik untuk diperhatikan dan menjadi hiburan selama dalam perjalanan.

Tulisan – tulisan itupun cukup beragam, mulai dari yang bermakna ambigu sampai peringatan untuk waspada. Simak saja beberapa diantaranya “Denox, Siap tempur”,”Sebatas kemampuan”,”Bojo Loro”,”Boncel”,”Rido Illahi”,”Beda Tipis”,”Utamakan Selamat”,”Rambat Lestari”,”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.