Category Archives: Gusti Ora Sare

Berisi tentang filsafat, pencerahan,mencari makna akan hidup sejati.

klepon

Klepon adalah sebuah makanan tradisional yang terbuat dari beras ketan yang di bentuk seperti bola bola kecil dengan isi gula jawa kemudian direbus dalam air mendidih lalu disajikan dengan parutan kelapa.

Tapi ini bukan klepon yang seperti tersebut diatas. Ini tentang klepon raja tipu dimana anda tidak akan pernah tahu, apakah dalam setiap gigitannya anda akan menemukan gula yang manis ataukah kekosongan saja.

Read the rest of this entry

BAB III (1-2)

MENYINGKAP TABIR KEAJAIBAN HATI

1. Jangan Paksa Allah Menuruti Fantasimu

Adalah merupakan kedunguan jika orang menghendaki perubahan (terjadinya sesuatu) yang tidak dikehendaki Allah pada suatu waktu.

Jangan engkau membiarkan dirimu dalam kedunguan karena diperdaya oleh fantasi – fantasi dan keinginan diluar jalan makrifat. Sebab sesungguhnya manusia itu mempunyai banyak keinginan, terutama keinginan tentang duniawi. Satu keinginan belum diraih, sudah mengharapkan keinginan yang lain. Begitu seterusnya. Jika engkau biarkan pikiranmu mempermainkan hatimu, maka kalbumu akan berdebu. Engkau tak akan mampu menyingkap tabir keajaiban hati.

Fantasi tak lebih dari suatu kebodohan. Merupakan tabir penghalang hatimu untuk bisa menempuh jalan menuju Allah. Apa yang diberikan Allah kepadamu, maka anggaplah sebagai rahmat dan kepedulianNya. Agar engkau bisa bersyukur kepadaNya. Sedangkan sesuatu yang belum terjadi maka janganlah berharap banyak. Jangan engkau memaksa Allah menuruti khayalanmu. Sebaik – baik hamba adalah yang qanaah terhadap pemberianNya.

Bolehlah seseorang berdoa mengharap rahmat dan kemurahanNya. Namun hendaknya mempunyai adab sopan santun sebagaimana santunnya orang yang meminta. Apakah permintaan itu dikabulkan atau tidak, maka serahkanlah kepada Yang Memberi.

Jika engkau mampu memposisikan dirimu sebagai hamba yang qanaah, dan mencegah fantasi – fantasi, maka hatimu akan mendapatkan penerangan cahaya Ilahi. Engkau akan bahagia menerima sebanyak yang Dia berikan kepadamu. Engkau akan menemukan kebenaran. Sesungguhnya kebenaran merupakan cahaya Ilahi. Dan hal itu hanya dapat dipantulkan melalui hati yang suci.

Read the rest of this entry

BAB II

MENYAPU DEBU KALBU

1. Mengapa Engkau Beramal

Berbagai jenis amal yang tampak adalah karena beragmnya keadaan yang berasal dari hati

Setiap amal selalu didahului dengan niat. Tanpa niat di dalam hatimu, maka mustahil engkau akan berbuat, tak mungkin engkau beramal. Niatmu adalah tolok ukur dari setiap amal perbuatanmu. Niatmu baik, aman menghasilkan buah yang baik, begitu pula sebaliknya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim diterangkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya sah dan tidaknya suatu amal itu bergantung kepada niatnya. Maka barangsiapa yang berhijrah semata – mata taat kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya diterima Allah dan RasulNya. Orang yang berhijrah karena mencari keuntungan duniawi atau wanita yang ingin dikawininya, maka hijrahnya terhenti pada keinginannya itu.”

Salah satu yang menyebabkan hati berdebu karena amal erbuatan yang engkau lakukan disertai dnegan niat yang tidak tepat. Padahal sebagai orang yang ingin menapaki jalan makrifat, segala sesuatunya itu berujung kepada Allah. Amalan apapun merupakan pengorbanan hamba bagi sang Khalik.

Berhati – hatilah mengawali niat bagi amal perbuatan yang hendak engkau lakukan. Niatmu melakukan ibadah tetapi semata – mata untuk mencari surga, maka sama halnya sebagai pekerja kuli yang hanya ingin mendapatkan bayaran dari juragannya. Padahal seorang kuli yang bekerja dengan niat menyenangkan hati juragan, maka ia akan mendapatkan dua macam imbalan. Pertama imbalan berupa bayaran, dan kedua adalah sikap tuannya yang ‘senang’ kepadanya.

Begitu pula jika niatmu itu bermuara kepada Allah, insya Allah engkau akan mendapatkan segala – galanya. Sesuatu yang tak ternilai harganya itu tak perlu kau risaukan, karena Allah telah berjanji akan memberinya. Jangan terlalu diharapkan, dan seharusnya engkau serahkan; diberi atau tidak, itu urusanNya.

2. Amal Ibarat Sangkar, Ikhlas Ibarat Burungnya

Bentuk amal yang nyata itu hanyalah kerangka yang tegak, sedangkan hakikatnya adalah wujud rahasia keikhlasan.

Engkau telah menyadari bahwa setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan bukan kepada perbuatanmu. Tetapi harus pula diingat, meskipun engkau sudah memasang niat, tetapi jika niat itu tidak ikhlas, maka ibarat sangkar tidak ada isinya. Ibarat tubuh tak berjiwa.

Amal merupakan penjelmaan dari niat dan keinginan di dalam hati. Ada niat dan keinginan di dalam hati, lalu diwujudkan dalam tindakan, maka barulah disebut amal. Amal tak akan gagal jika ada kecocokan dengan niat. Tetapi niat saja tidak cukup jika tidak ikhlas.

Sayid Sabiq pernah berkata, “Secara sengaja dengan ucapan, tindakan dan jihad karena hanya Allah semata dan mengharap ridhaNya saja. Inilah yang disebut ikhlas. Bukan karena niat mengharap harta, pujian, jabatan, atau kemasyhuran. Amal yang disertai dengan niat ikhlas akan terangkat dari sesuatu yang tercela.”

Sesungguhnya jika setiap tindakanmu itu kausertai dengan niat ikhlas hanya karena Allah, maka secara tidak langsung engkau telah menyapu debu dalam kalbu. Debu yang dimaksud adalah bahaya – bahaya ujub, riya’ dan sejenisnya.

Rasulullah mengajarkan tentang pokok – poko amalan ikhlas, “Sesungguhnya Allah tidak akan menilai bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat rupamu, namun Dia menilai hatimu. “ Lalu dalam sabdanya yang lain, “Manusia itu seluruhnya akan binasa, kecuali mereka yang beriman. Mereka yang beriman itu seluruhnya akan binasa, kecuali yang beramal. Dan mereka yang beramal seluruhnya akan binasa, kecuali mereka yang ikhlas.”

Ditinjau dari ikhlas dalam beramal taat, maka manusia itu dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok. Keikhlasan golongan manusia ibadah berbeda dengan golongan muhibbin. Golongan ibadah beramal hanya kepada Allah semata, dengan berharap mendapatkan surga dan terhindar dari neraka.

Tingkatan manusia muhibbin lebih sempurna lagi. Mereka ini bermal disebabkan kecintaannya kepada sang Khaliq. Beramal bukan karena ingin mendapatkan pahala dan bukan karena takut kepada neraka.

Tingkatan makrifat lebih sempurna. Mereka bermal tetapi tidak merasakan beramal. Setiap amal yang baik itu diyakini sebagai dorongan dan kehendak Allah. Terhadap amal baik itu, ia tidak merasa mempunyai kekuatan atau energi sedikitpun. Sehingga, dia tidak mengharapkan apapun dari Allah. Semuanya terserah Allah.

Sekarang, cobalah engkau bermuhasabah (instropeksi diri), masuk dalam tingkatan manakah amal ibadahmu? Jika ingin menempuh jalan makrifat, maka engkau harus berusaha untuk menduduki tingkatan terakhir.

Maka pemahaman tentang amal, niat, dan keikhlasan haruslah direnungkan. Sesungguhnya amal itu hanyalah bentuk lahiriah yang ibaratnya snagkar. Sedangkan keikhlasan merupakan sumber kekuatan dan kehendakmu. Karena itu gantungkanlah harapanmu hanya kepada Allah semata!

3. Benih Amal Yang Ditanam Berbuah Kebahagian

Tanamlah wujudmu dalam bumi kerendahan tak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam buahnya jadi tidak sempurna

Jangan kau mengharap pohon akan berbuah baik jika benihnya engkau lempar begitu saja. Sesungguhnya benih yang dipilih dari yang terbaik dan ditanam, kelak akan menjadi pohon yang berbuah sempurna. Begitu pula dengan amal yang engkau lakukan, jika engkau lakukan dengan sembunyi – sembunyi, ibarat benih kau tanam dalam bumi, maka akan berbuah kebahagian.

Artinya, sebagai orang yang ingin menempuh jalan makrifat, hendaknya membiasakan diri untuk beramal ikhlas. Lebih sempurna lagi jika amalanmu itu tidak kau tampakkan secara lahiriah kepada sesama makhluk. Ini dapat menghindari dekilnya kalbumu dari sifat riya’.

Manusia yang beramal taat kepada Allah tetapi dengan ‘asal-asalan’, tetapi ditampak-tampakkan maka amal itu akan menjadi busuk. Jika engkau melakukan hal itu, tentu yang engkau dapatkan kelak bukanlah rahmat dari Allah, melainkan celaka. Amal semacam ini ibarat engkau melempar benih sembarangan dan dilihat orang yang lalu lalang.

Beramal dengan dibebani berbgai muatan, misalnya engku beramal ingin pahala, takut neraka, ingin mendapatkan penghargaan, terangkat nama baikmu dimata manusia, maka tentu buahnya asam. Bahkan benih yang engkau tanam berbuah pahit, pohonnya berduri sehingga justru menyusahkan dirimu sendiri.

Amal yang baik adalah yang dipilih dari benih yang baik. Artinya, amalan itu didasarkan pada syariat yang benar sebagaimana yang telah diterngkan dalam hadis shahih maupun Al Quran. Lalu ditanam di dalam tanah, yang artinya sembunyikan amal kebaikan itu jangan sampai manusia cenderung memberi pujian kepadamu. Pastikan bahwa hanya Allah jua yang tahu kebaikan yng telah kau amalkan. Inilah sebuah pohon yang kelak akan berbuh kebahagiaan.

AGEMING AJI PRIYAYI JAWI (INTISARI KEARIFAN SERAT WEDHATAMA)

Posted on

Prolog

Setiap orang Jawa, apalagi priyayi Jawa akan terpanggil untuk mengejar kesempurnaan dirinya. Hal itu dilakukan untuk memenuhi martabatnya selaku manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Jalan yang ditempuh pun tergantung pada gambaran tentang dirinya dan tentang kesempurnaan yang ingin dicapainya.

Untuk mencapai kesempurnaan yang dimaksud, manusia Jawa akan menyelaraskan  yang lahir dan yang batin, kepentingan dunia dan kepentingan akhiratnya. Mengatur yang lahir dengan melakukan tatakrama dan etiket yang mengarah pada etika. Sedang mengatur yang batin dengan mengendalikan “angkara”, egoisme, dan hawa nafsu yang bercokol dalam diri manusia, yang merupakan penghalang jalan ke arah kesempurnaan. Upaya tersebut merupakan “laku”, suatu tindakan yang harus dilaksanakan untuk mencapai hakikat batin “ngelmu”, kesempurnaan, dan pengertian akan hakikat hidup. Puncak kesempurnaan ialah bersatu dengan Tuhan, manunggaling kawula gusti, sesudah lepas dari hawa nafsu dan tak ragu lagi dengan percampuran suksma.

Sesuatu yang lahir harus diatur dengan tatakrama, karena yang lahir merupakan cermin keadaan yang batin. Dan dari perbuatan dan perkataan akan tercermin keadaan jiwa yang bersangkutan, baik yang baik maupun yang jelek. Untuk itulah, dalam pergaulan orang harus tahu “semu”, tahu “rasa”, isyarat, alamat, yang tersirat dalam tingkah laku orang lain, tenggang rasa, hati – hati, hingga tidak memberi kesan jelek atau melukai hati orang lain.

Orang yang tidak mengatur yang batin akan terlihat pada sikap – sikapnya, antara lain : tak terkendali kata – katanya, apabila berbicara seenaknya sendiri, tidak mau dikatakan bodoh, selalu mencari pujian orang lain, dan tak mau kalah alias mau menang sendiri.

Sedangkan yang batin diupayakan kesempurnaannya dengan menguasai yang lahir, yakni dengan berpuasa (mencegah makan dan tidur), menyepi, membersihkan hati untuk mencapai keheningan hati dan pikiran karena hanya didalam keheningan hatilah orang akan menyatu dengan Tuhan. Sikap – sikap yang menyertai “laku” itu adalah merasa “ikhlas apabila kehilangan”, “tidak marah kalau disakiti orang lain”, dan “menyesali kesalahan, murah hati dan senantiasa pasrah kepada Tuhan”.

Sementara kesempurnaan manusia diukur dari jauh dan dekatnya dengan sesama dan dengan Tuhan. Oleh sebab itu, manusia harus tahu agama, cara bertindak terhadap sesama dan terhadap Tuhan, pendeknya harus mengusahakan damai dengan sesama dan Tuhan.

Begitulah, serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV (1811-1881) yang merupakan salah satu kitab pegangan bagi orang Jawa. Apalagi kitab yang memuat ageming aji priyayi Jawi ini membicarakan tentang manusia, cita – citanya, hubungannya dengan sesama manusia, dan hubungannya dengan Tuhan dalam upaya mencapai kesempurnaan tertinggi selaku manusia.

Wedhatama berarti “Pelajaran Utama”. Sebuah buku berbahasa Jawa dengan tembang – tembang beraneka lagu ini mengandung ajaran yang sangat bagus, menyangkut tingkah laku lahir maupun batin. Meskipun demikian, isi yang terkandung dalam buku ini juga sangat baik dan bermanfaat bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Jawa. Itulah sebabnya tulisan ini menyajikan terjemahan teks Indonesianya, agar isinya bermanfaat bagi kalangan seluas mungkin.

Adapun pokok isi ajaran “Wedhatama” pada intinya dibagi menjadi 4, yakni : Read the rest of this entry

Al Hikam 1.3 (Bab I -habis)

3.       Semangatmu Yang Menggebu Takkan Dapat Menembus Tirai Takdir

Semangatmu yang menggebu tak akan dapat menembus hijab ketentuan Allah

Yakinkah bahwa takdir Allah itu urusanNya semata? Jika kau meyakini demikian, mengapa membuang banyak energi dan tenaga untuk mencurahkan sebuah niat dan tujuan.

Orang boleh bekerja keras, berikhtiar untuk mencapai tujuan dan cita-cita. Tetapi seringkali engkau lupa bahwa di depan sana ada semacam benteng yang kokoh, yang tak seoorangpun mampu menembusnya. Benteng itu adalah hijab takdir atau kekuasaanNya.

Engkau boleh berkehendak. Tetapi kehendakmu tak akan mampu mengalahkan kehendakNya. Allah tak mau diatur oleh hambaNya yang memaksakan kehendak demi mencapai tujuan dan cita-cita.

Itulah sebabnya mengapa kita harus menanamkan itikad tentang takdir Allah. Tujuannya tak lain adalah agar manusia benar-benar menyadari bahwa daya upaya, energi dan kekuatnnya itu tak sebanding dengan kuasa Allah. Sangat kecil dan tak berarti.

Cara berpikir dan beriman semacam ini gunanya agar engkau tidak menyesal manakala tidak mampu meraih cita-citamu. Agar engkau tidak kecewa manakala menemukan kegagalan.

4.       Tak Perlu Mengurus Urusan Allah

Tenangkanlah jiwamu dari urusan duniawi, sebab apa yang telah dijanjikan Allah, janganlah kamu turut memikirkannya

Apakah engkau menyadari bahwa kerisauan jiwa kebanyakan disebabkan permainan pikiran yang selalu was – was, selalu mengkhawatirkan kejadian – kejadian ‘tidak enak’ yang akan menimpa.

Orang tidak tenang karena membuang – buang energi untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok hari, lusa, setahun kemudian atau masa depannya. Ketakutan itu karena khawatir nasibnya tidak beruntung. Padahal kejadian ‘buruk’ yang dikhawatirkan itu belum tentu dialaminya.

Jika engkau selalu risau, maka pertanda kadar tawakalmu masih rendah. Padahal orang yang mengaku beriman, sepenuh jiwa dan raga disandarkan kepada Kehendak dan Kuasanya Allah SWT.

Orang – orang yang yang mempunyai ketajaman mata hati akan selalu berpegang pada surat Ath Thalaq ayat 3, “Barangsiapa yang mau bertawakal (berserah diri) kepada Allah, pasti Dia akan mencukupi kebutuhannya.”

Dengan begitu ia tidak sibuk mengurusi urusan Allah yang dia sendiri tidak pernah mengetahuinya, apakah benar – benar terjadi atau tidak pada dirinya.

Engkau telah berikrar bahwa dirimu adalah sebagai hambaNya. Jika demikian engkau haruslah menempatkan dirimu sebagai budak. Yang seorang  budak tidak mempunyai hak untuk ikut campur urusan tuannya.

Jika engkau sebagai hamba kemudian ikut intervensi urusan Allah, maka tentu hal itu merupakan sikap yang tidak tahu diri. Yang demikian merupakan sikap tidak sopan.

Sebagai seorang hamba haruslah percaya sepenuh jiwa bahwa Dia menetapkan cara dan sarana penghidupan untuk memenuhi kebutuhan makhlukNya. Bukankah Rasulullah saw. Pernah bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sepenuh hati, pasti kamu akan mendapatkan rejeki seperti rejekinya burung yang yang ketika pagi meninggalkan sarang perutnya kosong, ketika sore hari pulang ke sarang perutnya penuh.” HR. At Turmidzi.

Oleh karena itu, kewajibanmu adalah mengikuti kehendak Allah dengan senang dan dengan itikad yang baik. Khusyuklah dalam menjalankan ibadah secara benar. Jadilah hamba yang baik, yang patuh dan tak pernah sibuk memikirkan urusanNya.

Read the rest of this entry

Al Hikam(1.2)

2.      Terimalah Yang Telah Dia Berikan

Engkau ingin bertajrid, padahal Allah menjadikanmu pada golongan yang mencari penghidupan. Keinginan (bertajrid) merupakan keinginan hawa nafsu. Sebaliknya, kau ingin memenuhi kehidupan duniawi, padahal Allah telah menjadikanmu ke dalam golongan bertajrid. Keinginan mengejar duniawi merupakan kemunduran dari cita-cita yang luhur.

Allah swt. tidak hanya menciptakan kehidupan akhirat. Allah juga menciptakan kehidupan duniawi. Mengapa engkau membenamkan diri dalam ritual-ritual yang justru menghabiskan umurmu menjadi sia-sia, tak bermanfaat bagi sesama manusia. Engkau berkeinginan dekat kepada Allah, lalu duduk berlama-lama memutar biji tasbih, tepekur sampai tengkukmu menjadi kaku. Engkau memperbanyak amalan-amalan sunah, sampai-sampai yang wajib terlupakan.

Sikap seperti itu pertanda bahwa kau hanya mengejar kehidupan akhirat belaka. Engkau melupakan hak dan kewajibanmu sebagai makhluk dimuka bumi. Padahal Allah menjadikan manusia itu sebagai khalifah, sebagai pengatur dan penguasa dunia.

Engkau lupa bahwa dirimu punya hak dan kewajiban untuk beristri dan beranak, mencari nafkah dan bergaul dengan sesama. Jika engkau bersiap mementingkan diri sendiri karena memburu akhiratmu, maka engkau pun melupakan kewajibanmu terhadap sesama manusia, terhadap anak dan istrimu dan terhadap orang-orang disekitarmu.

Atau, justru sebaliknya, engkau tidak memikirkan akhirat sama sekali tetapi sibuk memburu kekayaan. Siang dan malam membanting tulang. Tak henti-hentinya mengumpulkan energi dan memeras keringat. Semua itu kau lakukan untuk mencapai kenikmatan duniawi. Ingatlah, Allah tidak hanya menciptakan dunia, tapi juga akhirat.

Jika dirimu tenggelam dalam lautan duniawi belaka, lalu mana persiapan untuk akhiratmu? Kenikmatan hidup didunia ini hanya sekejap. Bagaikan musafir yang singgah di bawah sebuah pohon untuk berteduh.

Sebagai orang yang bermata hati, hendaknya jangan mementingkan urusan akhirat saja. Karena keinginan itu merupakan keinginan hawa nafsu. Sebaliknya jangan pula mementingkan urusan duniawi. Itu pun merupakan keinginan hawa nafsu.

Orang-orang yang tajam penglihatannya, tentu dapat mengatur keseimbangan antara kepentingan akhirat dan kehidupan duniawi. Masing-masing mendapatkan porsi yang seimbang. Orang-orang ini sadar bahwa Allah telah menyediakan kenikmatan duniawi yang harus dicapai diraih dengan jerih payah. Allah juga menjanjikan akhirat yang harus diraih dengan jerih payah juga. Karenanya, dalam masalah ini yang terpenting adalah diperlukan sikap untuk berserah diri kepada Allah, bersikap menerima atas kehendakNya terhadap penghidupanmu.

Al Hikam (1.1)

BAB I

KETENTUAN DARI YANG MAHA MENENTUKAN

1.       Berkurangnya Harapan Ketika Gagal

Orang yang membangga-banggakan jerih payah dan perbuatannya, ketika gagal akan berkurang harapannya terhadap rahmat Allah

Jika dirimu mempunyai anggapan bahwa segala sesuatunya yang telah engkau petik di dunia ini atas jerih payahmu sendiri, maka berarti engkau membanggakan diri terhadap kemampuanmu. Engkau akan menemui penyesalan ketika kelak gagal. Engkau akan menyesal manakala mendapati hasil yang tidak sesuai harapan.

Manusia seringkali lupa bahwa dibalik daya upaya dirinya itu ada kekuatan Yang Maha Kuat. Kekuatan Yang Berkuasa dan menentukan harapan-harapannya.

Jika mata hatimu jernih, maka engkau akan melihat bahwa asal penyebab dibalik jerih payahmu dan hasil yang kau dapatkan hanyalah dari Allah semata.

Keyakinan ini haruslah ditanamkan di dalam hati, agar engkau tidak menyesal manakala ikut bermain dalam kehidupan kemudian terantuk batu sandungan;gagal! Begitu juga jika engkau berhasil dalam mencapai harapan, maka engkau tak akan kufur nikmat.

Kebanyakan diantara manusia lupa diri. Mereka menganggap semua harapan itu dapat diraih dengan kekuatan usahanya sendiri. Karenanya jika ia telah dapat mencapai kenikmatan hidup, akhirnya jadi berbangga diri. Mereka mengingkari nikmat yang dirasakan. Mereka lupa bahwa yang menentukan hasil akhir dan jerih payahnya adalah Tuhan. Tanpa campur tangan kekuasaanNya, tak mungkin dapat mencapai kenikmatan itu.

Ingatlah jika engkau lupa bahwa takdir Allah itu sangat mempengaruhi jerih payahmu, maka engkau pasti kecewa ketika menemui kegagalan.

Tetapi jika dirimu sadar terhadap adanya penyebab kegagalan dibalik usaha, maka kegagalan hanya engkau pandang sebagai peringatan guna memperkuat kesadaran dalam berkehendak. Orang yang mengaku salik, tentu menyandarkan harapannya kepada Yang Maha Mengabulkan cita-cita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.