Arsip Kategori: Biografi

Mengupas Biografi orang – orang hebat yang bisa menjadi sumber inspirasi

The History of Javanese Kings

Pengantar

Mengungkap permasalahan kehidupan kraton tidak dapat dipisahkan dari permasalahan sumber legitimasi kekuasaan raja. Pembahasan tentang hal ini haruslah melihat wujud kekuasaan trdisional Jawa dengan sejumlah konsep yang ada dalam kekuasaan itu sendiri, sesuai dengan kebudayaan politik mereka. Konsep negara gung yang harus dilihat sebagai pusat kosmologis pemerintah, dan manca negara yang merupakan subordinasi negara gung, memperlihatkan bagaimana legitimasi kekuasaan seorang raja terhadap para kerabat dan rakyatnya. Suatu cerminan hubungan patron client relationship yang dalam bahasa politik kerajaan Jawa disebut manungaling kawula Gusti.

Pada masa pemerintahan raja-raja Jawa kuno, pendidikan humaniora mendapatkan tempat utama. Soal-soal kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional terbatas saja. Pendidikan tentang puisi merupakan pendidikan yang harus diikuti oleh umum, lebih – lebih oleh kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat. Kesadaran mengenai makna penting kedudukan ilmu bahsa, sastra, sejarah antropologi, kemanusiaan, kemasyarakatan, keagamaan dan tata negara telah memberi inspirasi para pejabat kerajaan untuk mendirikan, mengembangkan, dan membantu proses pendidikan pada sat itu yang berwujud padepokan dan peguron. Kraton Mataram Kuno mengalami zaman keemasan pada masa pemerintahan Raja Balitung dimana saat itu raja menyelenggarakan pentas seni besar-besaran, dengan menampilkan pegelaran wayang. Raja Balitung sendiri aktif dalam berolah cipta karya yang berusaha mengembangkan kemajuan masyarakat. Hal ini merupakan prestasi sang raja yang bersedia menyeimbangkan kebutuhan material dan spiritual. Read the rest of this entry

Penggagas Awal Republik Indonesia

BERKELANA sebagai orang buangan di saat rekan-rekannya di Tanah Air berjuang melawan imperialis membuat Ibrahim Datuk Tan Malaka nelangsa. Ia kian kesal ketika permohonannya untuk kembali ke Jawa ditolak Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dick Fock. Padahal keinginannya mengabdi kepada partai dan rakyat begitu menggebu-gebu.

Maka, di sela-sela tugasnya sebagai agen Komintern di Tiongkok, Tan pun menulis sebuah brosur panjang: Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Dalam kata pengantar, dia menulis: ”Jiwa saya dari sini dapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku ini sebagai alat.”

Naar de Republiek terbit di Kanton pada April 1925. Tak jelas berapa eksemplar brosur ini dicetak. Yang pasti, cuma beberapa buah yang berhasil masuk ke Indonesia. Tan kembali mencetak tulisan panjang itu ketika dia berada di Filipina pada Desember 1925. Cetakan kedua inilah yang kemudian menyebar luas melalui jaringan Perhimpunan Pelajar Indonesia. Para pemuda bahkan mengetik ulang buku ini—setiap kali dengan karbon rangkap tujuh.

Para pemimpin perjuangan, termasuk Bung Karno yang kala itu memimpin Klub Debat Bandung, membaca buku Tan. ”Bung Karno selalu membawanya,” kata Sayuti Melik, seperti dikutip Hadidjojo Nitimihardjo dalam pengantar edisi terjemahan Naar de Republiek.

Buku kecil ini terdiri atas tiga bab, masing-masing mengulas situasi politik dunia, kondisi Indonesia, dan garis perjuangan Partai Komunis Indonesia. Pada subbab terakhir, ”Halilintar Membersihkan Udara”, Tan mengecam kaum terpelajar Indonesia yang, menurut dia, masa bodoh dengan perjuangan kemerdekaan. Tulisnya: ”Kepada kaum intelek kita seruhkan…. Tak terdengarkah olehmu, teriakan massa Indonesia untuk kemerdekaan yang senantiasa menjadi semakin keras?”

Bukan cuma Soekarno yang selalu membawa-bawa Naar ke mana-mana, Muhammad Yamin juga memuja Tan. Bagi Yamin—yang kemudian bergabung dengan Tan dalam kelompok Persatuan Perjuangan—Tan tak ubahnya Bapak Bangsa Amerika Serikat, Thomas Jefferson dan George Washington: merancangkan Republik sebelum kemerdekaannya tercapai.

Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127957.id.html

Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka (2-habis)

(Sambungan Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka 1)

Karya apa yang paling menarik baginya?

Jawabnya tanpa ragu, “Ramayana dan Sasana Sunu.” Mengapa? “Bagi saya, ajaran yang terdapat dalam Sasana Sunu itu ditambah pula dengan ajaran dari kitab Ramayana, sudah cukup untuk bekal hidup lahir dan batin. Ada pun jalan cerita Ramayana baik sekali, banyak pelajarannya, indah-indah perhiasannya, lagi gagah bahasanya. Seumur hidup belum pernah saya membaca kitab Jawa yang menyamai Kitab Ramayana dalam hal bahasanya.”

Dalam Kitab Sasana Sunu terdapat 12 ajaran, diantaranya: Orang hidup harus ingat bahwa dia dijadikan manusia oleh Tuhan, bahwa dia diakruniai makan serta pakaian, bahwa cara memperoleh penghasilan itu harus dengan tenanganya sendiri. Selanjutnya dikemukakan pula perihal sopan santun pergaulan hidup, cara berpakaian, berteman, menghormat tamu, mengeluarkan tutur kata dan pikiran serta menjadi orang besar atau kecil.

Read the rest of this entry

Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka (1)

Prof. Dr. R.M. Ng. Poerbatjaraka

Doktor Tanpa Ijazah Sekolah Dasar

Banyak orang bertanya, “Dimanakah mahaguru Jawa Kuno dan Sansekerta yang selalu pakai kain, baju beskap dan ikat kepala solo itu? Dimanakah Prof. Dr. Poerbatjaraka?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mencari Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka dan menemukannya di sebuah rumah berlampu teplok (minyak tanah) di Kampung Kawi Dalam, kira-kira 2 km dari jalan besar.

Putra Indonesia kedua yang memperoleh gelar doktor di Universitas Leiden tahun 1926 itu saya jumpai sedang berbaring di dua kursi yang disatukan. Ketuaan telah menguasai tubuhnya. Tetapi usia 80 tahun terbukti belum berhasil mematahkan vitalitas rohani  Pak Poerba.

“Di sini Pak?” tegur saya.

Kontan dijawab dengan suaranya yang lantang dan tajam, “Habis mau apa? Sudah begini?”

Setumpukan buku terletak diatas meja tanpa pelitur. Tanpa kacamata ia masih dapat membaca judul Majalah Intisari  dan dia memang masih rajin membaca, membuat karangan untuk Majalah Bahasa dan Budaya serta sekali seminggu pada setiap Rabu, turun dari pertapaannya, untuk memberikan bimbingan kepada para mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang sedang mempersiapkan disertasi.

Terpengaruh oleh keadaan di sekelilingnya, saya tak kuasa menahan pertanyaan, “Apakah Pak Poerba menyesali hidup ini?”

Mendadak dia bangkit, duduk, dan membentak tegas, “Sesal?Oh, sama sekali tidak. Ik heb geen spijt van mijn leven (saya tidak menyesali hidup saya). Saya rela mati, sekarang juga.”

Mengapa tiada penyesalan sedikitpun?

“Lho, mengapa? Aku iki bocah kampung, bergajul Solo bisa jadi kaya ngene. Apa ana to? (Saya ini hanya anak kampung, bregajul Solo dapat mencapai begini. Apa ada lainnya?)” Sambungnya lagi, “Dalam karier saya sebagai seorang sarjana, saya telah dapat memberikan sumbangan kepada masyarakat. Yaitu dapat memahami hal – hal yang yang oleh orang lain tidak dapat dimengerti.”

Jika dewasa ini dapat menikmati Sendratari Ramayana, membaca Ramayana, Arjunawiwaha, Dewa Ruci, Smaradahana, Nitisastra dan warisan kekayaan Sastra Indonesia dari Jawa yang begitu melimpah, itu sebagian besar berkat jasa penelitian dan terjemahan Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatajraka.

Lesija Poerbatjaraka adalah anak nomor dua Raden Mas Tumenggung Poerbadipoera, Bupati Anom Kasunanan Surakarta. Hubungan antara Bupati Anom dengan Sunan Paku Buwono X baik sekali, karena sejak bayi, sunan ini diasuh oleh Tumenggung Poerbadipoera. Pendidikan tari-nyanyi-sastra diberikan oleh Bupati Anom tersebut.

Ketika para putra sunan masuk sekolah dasar, Lesija dan saudaranya diminta menemani, agar “jangan dikurangajari oleh sinyo-sinyo”. Salah seorang putra Sunan PB X, Antasena, kemudian menggantikan ayahnya sebagai Paku Buwono XI.

Lesija mengikuti pelajaran, sekali pun tidak pernah terdaftar sebagai murid resmi. Dasar pintar lagi tekun belajar, dia sendiri berhasil sampai kelas 6. Yang laingagal dijalan. Di kelas tersebut, Lesija dikeluarkan. Alasannya “sudah terlalu tua.”

Namun sebab yang sebenarnya menurut Pak Lesija Kodrat Porbapangrawit, karena “….terlalu pintar. Belanda khawatir, jangan – jangan nanti dapat melanjutkan ke HBS.”

Untuk mempraktekkan bahasa Belanda, Lesija sering mengajak bicara para prajurit Belanda yang berjaga di depan Kraton Kasunanan. Kemahirannya dalam bahsa juga diakui oleh Rademaker, arsitek kepala di keraton. “Kalau mau mencari orang Solo yang pandai berbahasa Belanda, carilah Porbatjaraka.”

Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.