Arsip Kategori: Asmuni

Asmuni kependekan dari “asal muni”, asal bicara. tentang segala pemikiran orang bodoh kayak saya dalam menyikapi suatu permasalahan atau prihal yang terjadi

Aksiku Untuk Bumiku (1)

Kampanye melawan laju Global Warming hampir tiap saat terdengar, berbagai media membahasnya, begitupula dengan berbagai opini serta wacana yang dimunculkan. Dan ide – ide cemerlangpun selalu dimunculkan. Memang sudah kewajiban kita sebagai Homo sapiens penghuni planet bumi yang dilengkapi dengan akal dan budi untuk menjaga kelestarian planet tempat tinggalnya. Walaupun sebagaian besar dari kita masih belum sadar untuk melakukannya. Untuk itu kampanye yang gencar serta berbagai metode untuk menyelamatkan planet biru ini harus senantiasa dilaksanakan. Untuk mendukung aksi tersebut dibawah ini adalah beberapa hal yang bias kita lakukan untuk ikut serta dalam upaya membendung laju pemanasan global.

  1. Gunakanlah tas dari kain yang bias dicuci untuk berbelanja daripada menggunakan tas kertas dan tas plastik.
  2. Cucilah baju dengan menggunakan air dingin daripada menggunakan air panas.
  3. Matikan peralatan elektronik jika tidak digunakan(termasuk cabut stekernya).
  4. Gunakanlah timer untuk mengatur nyala dan matinya lampu luar ruangan.
  5. Gunakananlah jebakan untuk tikus dan serangga daripada menggunakan racun atau insektisida.
  6. Minimalkan penggunaan pestisida.
  7. Manfaatkanlah kertas secara bolak balik.
  8. Gunakanlah kembali amplop, map, dan penjepit kertas.
  9. Gunakanlah surat elektronik daripada kertas untuk berkorespondensi.
  10. Gunakanlah kertas daur ulang.
  11. Gunakan gelas atau mug dari keramik ataupun beling (kaca) untuk kopi daripada gelas sekali pakai.
  12. Gunakanlah tenaga surya untuk pemanas air.
  13.  Belilah ban radial dan jagalah tekanannya untuk kendaraanmu.

Indonesia (harusnya) lebih maju

Menilik berita di Kompas (18/6) yang menyebutkan bahwa China akan segera menjadi sebuah raksasa ekonomi dan militer di Asia. Akan tetapi, walaupun demikian China masih berada di belakang AS dan Jepang dalam mematri pengaruh “kekuatan lunak” di kawasan.

Adapun “kekeuatan lunak” yang dimaksud adalah ekonomi, budaya, modal manusia, diplomasi, dan politik. Yang mana kekuatan lunak tersebut merupakan modal utama sebuah Negara agar memiliki pengaruh, baik ditingkat regional maupun internasional. Read the rest of this entry

Tantangan Baru Indonesia (Refleksi 10 dasawarsa kebangkitan nasional)

Posted on

Momentum 100 tahun kebangkitan nasional ditandai dengan sebuah perhelatan akbar di Istora Bung Karno Senayan Jakarta. Lebih dari 100.000 penonton dan 30.000 pengisi acara menyemarakkan perhelatan akbar tersebut. Belum lagi peringatan yang diadakan di tempat lain seperti di Gedung STOVIA Jakarta, dan diberbagai daerah oleh berbagai macam elemen dan lapisan masyarakat.

Gegap gempita peringatan 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional ini, seolah – olah dijadikan sebuah tonggak, titik balik, untuk merefleksikan semangat dan kegigihan para pemuda ”tempo doeloe”. Sebuah semangat yang layak diteladani oleh para pemuda bangsa Indonesia saat ini.

Semangat baru ini langsung di uji dengan semakin terpuruknya perekonomian dunia. Harga minyak dunia yang terus melonjak, krisis pangan, sampai dengan pemanasan global. Eksistensi kebangsaan yang ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908 harus diwujudkan dalam sebuah tindakan nyata, bukan hanya dilontarkan sebagai gagasan dan wacana saja.

Tindakan yang nyata tersebut bisa diwujudkan dengan bekerja secara kreatif, produktif, efektif, dan efisien. Budaya kerja keras, cerdas, jujur, dan gigih harus senantiasa kita bangkitkan. Misalnya dengan belajar menguasai Ilmu Pengetahuan, keahlian dan mengembangkan sikap ulet, seksama, disiplin, menghargai waktu, hemat, saling percaya, taat hokum, dan menghargai prestasi.

Tantangan ekonomi saat ini harusnya menjadi cambuk bagi bangunnya ide – ide kreatif untuk lepas dari keterpurukan ekonomi yang mengancam. Dengan kekayaan alam yang melimpah, merupakan sebuah peluang yang harus segera dioptimalkan pemanfaatannya.

Sungguh ironis memang, sebagai sebuah Negara agraris kita malah menjadi pengimpor beras terbesar. Konversi lahan pertanian yang tidak terkendali dan lemahnya daya saing petani menjadi penyebab utama hal ini.

             Sinergi antara pemerintah dan rakyat perlu untuk selalu ditingkatkan demi tercapainya ketahanan pangan. Pembangunan seyogyanya lebih diarahkan pada sector agraria, karena Indonesia mempunyai potensi yang cukup besar. Oleh karena itu lonjakan harga pangan dengan strategi yang jitu seharusnya lebih banyak membawa berkah ketimbang petaka bagi Indonesia.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.