Nyetrum ikan di Sungai Cikaso

Beberapa bulan setelah pindah ke Sukabumi, untuk menghilangkan kejenuhan di mess, saya mencoba bergabung bersama teman – teman pemuda kampung saya untuk ikut mencari ikan. Ada banyak cara yang biasa dipergunakan masyarakat sini untuk mencari ikan, yang walaupun pada dasarnya hampir sama dengan di daerah lainnya. Setrum, lazim digunakan di berbagai daerah untuk mencari ikan. Di Pabuaran pun tak ketinggalan acara setrum menyetrum menjadi bagian dari kegiatan beberapa anggota masyarakat. Adapun alat yang digunakan cukup sederhana, satu box yang biasa disebut ‘mesin’ terdiri dari aki 12 V, travo, kondensator, dan sekring. Sedangkan bagian yang lainnya terdiri dari sebuah bilah besi sepanjang 1,5 m dengan pegangan dari kayu yang dilapisi potongan paralon yang berfungsi untuk menghantarkan arus listrik yang dihasilkan dari aki. Alat berikutnya adalah serok (jw) atau sair (sun), yang berfungsi untuk menangkap ikan yang terkena setrum. Alat yang dibawa terakhir adalah ember, untuk menampung hasil setruman.

Sekitar pukul 20.00 WIB kami mulai berkumpul di rumah Mang Dacem untuk mempersiapkan alat setrum. Satu persatu bagian dari alat setrum dirangkai, ember disiapkan, begitu pula lampu petromak sebagai penerang. Sekitar setengah jam berlalu persiapan kami sudah selesai. Sambil menikmati suguhan kopi, kami banyak membicarakan masalah ikan disungai, dan kondisi sungai yang akan kita lalui. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, kami mulai beranjak dari rumah Mang Dacem menuju sungai. Jalan pinggir kampung yang cukup gelap kami lalui tanpa kesulitan dengan penerangan dari petromak dan senter dari telepon genggam yang saya bawa. Keluar dari kampung, kami mulai menyusuri pematang sawah. Walaupun sedang akhir dari musim penghujan, warga sekitar aliran sungai masih juga menanam padi. Mereka menggunakan kincir air untuk mengalirkan air ke petak-petak sawah mereka.

Sampai di tujuan, kami segera turun ke sungai. Dingin menusuk, ketika kulangkahkan kaki masuk ke dalam sungai. Khas air sungai daerah dataran tinggi. Dasar sungai yang berupa batuan cadas membuatnya sangat licin, kami harus berhati hati dalam melangkah, perjalan itu semakin sulit ketika arus sungai bertambah deras.

Si Asep segera beraksi, sebagai pembawa lampu petromak dia bertugas untuk menerangi air sungai, sehingga penyetrum bisa melihat sasaran mereka. Mang Pandi segera mengarahkan setrumnya ke ikan – ikan yang terlihat. Tangan kirinya juga cukup cekatan mengambil ikan yang menggelepar terkena setrum menggunakan seroknya. Iwan, yang baru kalipertama bawa setrum terlihat kuwalahan, baginya untuk berjalan di sungai dengan dasar yang licin dan berarus deras saja sudah sangat kesusahan, ditambah lagi beban box setrum di punggungnya yang sekitar 10 kg beratnya membuat ikan – ikan yang dia setrum gagal tertangkap seroknya terbawa arus sungai yang deras.

Perjalanan kami semakin jauh menyusuri sungai, dasar suangai yang tadinya berupa cadas, kini berganti dengan kerikil – kerikil yang tajam dan lumpur. Semak – semak disekitar sungai juga semakin lebat. Gelapnya malam semakin pekat, karena kini rumah – rumah warga sudah tidak terlihat lagi. Di semak – semak sekitar sungai kami beberapa kali menjumpai ular air, tak mau ambil resiko kami segera menjauhi semak – semak. Namun adakalanya kami menemukan ular yang melintas di tengah sungai, tak tanggung – tanggung mang Pandi mengarahkan setrumnya ke ular tersebut, langsung saja ular tersebut menggeliat terkena setrum, beberapa detik kemudian ular terseut terkulai lemas tak berdaya terseret arus sungai.

Malam ini agaknya kami kurang beruntung, sampai pukul 00.30 ikan yang kami dapatkan tidaklah terlalu banyak. Lelah berjalan menyusuri sungai, akhirnya diputuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar melepas lelah. Di pinggiran sungai yang terdiri dari batuan kerikil serta beberapa batuan besar kami mulai beristirahat. Bekal roti dikeluarkan, dengan sangat bersemangat kami mulai melahapnya. Kondisi medan yang sulit, udara dingin, serta pakaian bagian bawah yang basah oleh air sungai yang dingin ternyata membuat kami benar – benar merasa kelaparan. Tidak ketinggalan kopi juga dihidangkan untuk melepaskan diri dari kantuk yang mulai menyergap, beberapa anggota rombongan memang sudah berkali – kali menguap menahan kantuk.

Dirasa cukup istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Arus suangai semakin deras dan kini sungai juga semakin dalam. Melangkahpun semakin susah. Mang Pandi dan Iwan masih sibuk menyikat ikan-ikan yang terlihat oleh mereka. Tampaknya kini Iwan sudah semakin terampil menggunakan setrumnya. Tiba – tiba lampu petromak yang di bawa mang Asep semakin meredup dan Pettt….akhirnya padam. Kami sempat panik karena berada ditengah sungai, dan keadaan gelap gulita, kami tidak bisa melihat satu sama lainnya. Setelah saya mengeluarkan senter barulah kami mulai menuju ke pinggiran sungai dan melihat kondisi petromak yang ternyata kehabisan minyak.

Dengan terpaksa, kami harus pulang karena tidak membawa persediaan minyak tanah. Dengan berat hati kami melangkah pulang karena hasil tangkapan tidaklah begitu memuaskan.

Namun, pengalaman menyetrum di sungai cikaso, tetaplah pengalaman yang sangat menarik….

Next time, beberapa kawan dari kampung tetangga sudah mengajakku untuk menjala ikan (kecrik, sunda)…

16 responses »

  1. Si bolang episode malam,ktny bu guru g boleh pake setrum,tp klo caranya menyetrum ikan satuper satu,kelestarian alam g tlalu terganggu.tp apa g bbahaya untk pencarinya,selain terpeleset,jg kesetrum sdiri.tp sptny tantangan dan pengalaman yg asyik

  2. yupz….sangat berbahaya sekali memang. terutama resiko tersetrum. Akan tetapi metode ini banyak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di daerah sungai yang dangkal.
    Di aliran sungai Berantas sendiri lebih ekstrim, dengan arus yang begitu kuat dan dalam, para penyetrum biasanya hanya naik diatas ban dalam, berkutat semalaman dengan bahaya. Akan tetapi, itulah profesi yang mereka pilih…..

    Aman kok, hanya ikan yang besar saja yang disetrum…meskipun terkadang ikan yang kecil juga ikut kena, karena adanya radiasi setrum….

  3. hohoho.udah jd anak kampung yehh

  4. Bang tolong dong skema alat penyetrum ikannya….trims

  5. iya mas…tar coba tak carikan skemanya….tapi gak janji ya?soalnya itu yang punya alat setrum juga anak-anak daerah sini…

  6. UU No 9 th 1985
    Setiap orang atau badan hukum dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan kerusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya.
    Penggunaan bahan peledak, bahan beracun, aliran listrik dan lain- lain tidak saja mematikan ikan, tetapi dapat pula mengakibatkan kerusakan pada lingkungan dan merugikan nelayan dan petani ikan. Apabila terjadi kerusakan sebagai akibat digunakannya bahan dan alat termaksud, maka pengembalian ke dalam keadaan seperti semula akan membutuhkan waktu yang sangat lama, atau bahkan mungkin mengakibatkan kepunahan. Oleh karenanya, penggunaan bahan- bahan tersebut harus dilarang.

  7. walah kang…nek detail ngono yo gak ngerti tah aku….lha wong duduk tukang setrum tenan kie…mung nggo ngisi waktu senggang wae kuwi, manggon nang pedalaman, gak enek hiburan..ha ha ha

  8. Menyetrum ikan adalah tindakan ilegal. Ini merusak ekosistem karena bukan saja ikan besar (yang anda buru) yang mati, ikan-ikan kecil pun ikut mati.
    Jika ini berlangsung terus menerus, anda dan anak cucu anda akan mendapatkan sungai yang kosong tanpa kehidupan.
    Sungguh memalukan orang-orang yang berpendidikan melakukan hal ini.
    Inilah indonesia, apa yang tidak baik malah dibanggakan :(

  9. @Mancing gembira : terima kasih sudah diingatkan…iya sdr. Zeb diatas juga sudah mengingatkan….hhmm…semoga tidak terulang lagi…..sekali terima kasih atas masukannya….

  10. ditempat saya kegiatan nyetrum ikan bisa ditangkap polisi kalau ketauan karena ini melanggar UU

  11. Mencari ikan di arus deras, memang agak susah. tapi kalo dengan cara di setrum ikan yang ada bisa mudah tertangkap. namun untuk jangka panjang cara ini merusak lingkungan dan kelestarian ikan yang hidup di sungai tersebut. sebaiknya cara-cara tersebut di tinggalkan. karena saat ini sudah dilarang dalam UU perikanan. coba cara lain seperti dengan menggunakan trap (bubu) atau pancing.

  12. Mas atau siapapun yg baca artikel ini , yg bisa bikin alat setrum ikan tolong krm ke email saya ya maz. .
    ndhexs@yahoo.com.
    Soalnya saya sudah gregetan bgt nich dengan jentik jentik nyamuk di got got deket rumah saya. Berjuta jentik nyamuk disana pengen saya setrum pake setrum ikan, bisa kan mas?

  13. Gak usah bicara Undang-undang, Wong cilik nggolek iwak nggo anak bojone utowo isengan, la nek nggo bubu po pancing kapan olehe… yo to, ora bakalan ngerusak ekosistem, kecuali strumane soko tiang listrik (nyolongan)….
    Liat wong seng jarene pinter, korupsine trilyunan ngerusak negoro, langsung sak rakyate do soro kabeh.
    mestine duit korupsine nggo tuku iwak sing akeh njor dilepas nang kalen po waduk, kanggo mata pencarian wong seng ora mampu…..

  14. @zeb & mancing gembira : lu berdua anak koruptor yg tukang bikin undang2 ya…!

  15. @rakyat,..bner sekali..ntar anak mu gak bakalan kebagian ikan disungai karena ulahmu pak.

    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagian dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Al-Qashash (28): 77

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: