Nyetrum ikan di Sungai Cikaso

Beberapa bulan setelah pindah ke Sukabumi, untuk menghilangkan kejenuhan di mess, saya mencoba bergabung bersama teman – teman pemuda kampung saya untuk ikut mencari ikan. Ada banyak cara yang biasa dipergunakan masyarakat sini untuk mencari ikan, yang walaupun pada dasarnya hampir sama dengan di daerah lainnya. Setrum, lazim digunakan di berbagai daerah untuk mencari ikan. Di Pabuaran pun tak ketinggalan acara setrum menyetrum menjadi bagian dari kegiatan beberapa anggota masyarakat. Adapun alat yang digunakan cukup sederhana, satu box yang biasa disebut ‘mesin’ terdiri dari aki 12 V, travo, kondensator, dan sekring. Sedangkan bagian yang lainnya terdiri dari sebuah bilah besi sepanjang 1,5 m dengan pegangan dari kayu yang dilapisi potongan paralon yang berfungsi untuk menghantarkan arus listrik yang dihasilkan dari aki. Alat berikutnya adalah serok (jw) atau sair (sun), yang berfungsi untuk menangkap ikan yang terkena setrum. Alat yang dibawa terakhir adalah ember, untuk menampung hasil setruman.

Sekitar pukul 20.00 WIB kami mulai berkumpul di rumah Mang Dacem untuk mempersiapkan alat setrum. Satu persatu bagian dari alat setrum dirangkai, ember disiapkan, begitu pula lampu petromak sebagai penerang. Sekitar setengah jam berlalu persiapan kami sudah selesai. Sambil menikmati suguhan kopi, kami banyak membicarakan masalah ikan disungai, dan kondisi sungai yang akan kita lalui. Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, kami mulai beranjak dari rumah Mang Dacem menuju sungai. Jalan pinggir kampung yang cukup gelap kami lalui tanpa kesulitan dengan penerangan dari petromak dan senter dari telepon genggam yang saya bawa. Keluar dari kampung, kami mulai menyusuri pematang sawah. Walaupun sedang akhir dari musim penghujan, warga sekitar aliran sungai masih juga menanam padi. Mereka menggunakan kincir air untuk mengalirkan air ke petak-petak sawah mereka.

Sampai di tujuan, kami segera turun ke sungai. Dingin menusuk, ketika kulangkahkan kaki masuk ke dalam sungai. Khas air sungai daerah dataran tinggi. Dasar sungai yang berupa batuan cadas membuatnya sangat licin, kami harus berhati hati dalam melangkah, perjalan itu semakin sulit ketika arus sungai bertambah deras.

Si Asep segera beraksi, sebagai pembawa lampu petromak dia bertugas untuk menerangi air sungai, sehingga penyetrum bisa melihat sasaran mereka. Mang Pandi segera mengarahkan setrumnya ke ikan – ikan yang terlihat. Tangan kirinya juga cukup cekatan mengambil ikan yang menggelepar terkena setrum menggunakan seroknya. Iwan, yang baru kalipertama bawa setrum terlihat kuwalahan, baginya untuk berjalan di sungai dengan dasar yang licin dan berarus deras saja sudah sangat kesusahan, ditambah lagi beban box setrum di punggungnya yang sekitar 10 kg beratnya membuat ikan – ikan yang dia setrum gagal tertangkap seroknya terbawa arus sungai yang deras.

Perjalanan kami semakin jauh menyusuri sungai, dasar suangai yang tadinya berupa cadas, kini berganti dengan kerikil – kerikil yang tajam dan lumpur. Semak – semak disekitar sungai juga semakin lebat. Gelapnya malam semakin pekat, karena kini rumah – rumah warga sudah tidak terlihat lagi. Di semak – semak sekitar sungai kami beberapa kali menjumpai ular air, tak mau ambil resiko kami segera menjauhi semak – semak. Namun adakalanya kami menemukan ular yang melintas di tengah sungai, tak tanggung – tanggung mang Pandi mengarahkan setrumnya ke ular tersebut, langsung saja ular tersebut menggeliat terkena setrum, beberapa detik kemudian ular terseut terkulai lemas tak berdaya terseret arus sungai.

Malam ini agaknya kami kurang beruntung, sampai pukul 00.30 ikan yang kami dapatkan tidaklah terlalu banyak. Lelah berjalan menyusuri sungai, akhirnya diputuskan untuk beristirahat sejenak, sekedar melepas lelah. Di pinggiran sungai yang terdiri dari batuan kerikil serta beberapa batuan besar kami mulai beristirahat. Bekal roti dikeluarkan, dengan sangat bersemangat kami mulai melahapnya. Kondisi medan yang sulit, udara dingin, serta pakaian bagian bawah yang basah oleh air sungai yang dingin ternyata membuat kami benar – benar merasa kelaparan. Tidak ketinggalan kopi juga dihidangkan untuk melepaskan diri dari kantuk yang mulai menyergap, beberapa anggota rombongan memang sudah berkali – kali menguap menahan kantuk.

Dirasa cukup istirahat, kami kembali melanjutkan perjalanan. Arus suangai semakin deras dan kini sungai juga semakin dalam. Melangkahpun semakin susah. Mang Pandi dan Iwan masih sibuk menyikat ikan-ikan yang terlihat oleh mereka. Tampaknya kini Iwan sudah semakin terampil menggunakan setrumnya. Tiba – tiba lampu petromak yang di bawa mang Asep semakin meredup dan Pettt….akhirnya padam. Kami sempat panik karena berada ditengah sungai, dan keadaan gelap gulita, kami tidak bisa melihat satu sama lainnya. Setelah saya mengeluarkan senter barulah kami mulai menuju ke pinggiran sungai dan melihat kondisi petromak yang ternyata kehabisan minyak.

Dengan terpaksa, kami harus pulang karena tidak membawa persediaan minyak tanah. Dengan berat hati kami melangkah pulang karena hasil tangkapan tidaklah begitu memuaskan.

Namun, pengalaman menyetrum di sungai cikaso, tetaplah pengalaman yang sangat menarik….

Next time, beberapa kawan dari kampung tetangga sudah mengajakku untuk menjala ikan (kecrik, sunda)…

Kendaraan Ekspresif

Sewaktu perjalanan pulang ke kampung halaman melalui jalur pantura, saya memperhatikan banyak sekali hal menarik yang saya temui sepanjang perjalanan. Salah satunya adalah tulisan – tulisan yang terdapat di kendaraan – kendaraan angkutan umum seperti truk, bus, Elf, Angkudes, dsb.

Entah tulisan itu dibuat dengan maksud tertentu ataukah hanya untuk hiasan dan asal ada saja atau bagaimana saya juga belum tahu. Yang pasti ketika dalam perjalanan panjang saya menyusuri Pantura, keberadaan ‘mode’ semacam itu cukup menghibur saya. Sebenarnya yang ada bukan hanya tulisan – tulisan saja, namun juga ada yang berupa lukisan yang dikerjakan dengan teknik airbrush ataupun pengecatan biasa dengan tema yang bervariasi. Mulai yang bernuansa religi sampai dengan gambar – gambar seronok.  Yang jelas semuanya itu cukup menarik untuk diperhatikan dan menjadi hiburan selama dalam perjalanan.

Tulisan – tulisan itupun cukup beragam, mulai dari yang bermakna ambigu sampai peringatan untuk waspada. Simak saja beberapa diantaranya “Denox, Siap tempur”,”Sebatas kemampuan”,”Bojo Loro”,”Boncel”,”Rido Illahi”,”Beda Tipis”,”Utamakan Selamat”,”Rambat Lestari”,”

Terjemahan Lagu Boso Jowo

All out of love (Air Supply):
Katresnan kebablasan

Goodbye (Air Supply):
Minggat

Lost in love (Air Supply):
Wes ora tresno

Making love out of nothing at all (Air Supply):
Gelo (jebule ora dibayar)

Grease (Bee Gees) :
Kinclong

How deep is your love (Bee Gees):
Duwekmu kok jero ‘men

I started a joke (Bee Gees):
Wiwit ndagel

In the morning (Bee Gees):
Isuk utuk2

Saturday night fever (Bee Gees):
Meriang ning nekat ngapel

Summertime (jazz) :
Loro Panas

Stayin’ alive (Bee Gees) :
Ora iso mati

Words (Bee Gees) :
Nggedebus

More than words (Extreme) :
Nggedebus pol
Baca Lanjutannya…

Junglish

What is Junglish? Jungle English..like one
mentioned below:

Javelish.. The typical Javanese language: ‘lho’,
‘lha’, ‘tho’, ‘kok’, ‘ki’, etc
-Lho, I already bought that book !
-Kok, buying again ?
-I told you many times ‘tho’ !
-Lha, I didn’t know … how ki !?
-Don’t be like that, no….!?

Jakartenglish ? Jakarte English is marked by the
’sih’, ‘deh’, ‘dong’,'nih’,etc
-That book is very good, deh.
-Can you speak english?.. yeah a little sih I can!
-Use my money first nih..
-Give me more dong..
-How sih? Little little angry..

Surobenglish is marked by ‘tah’ and the famous word
is ‘diancuk’
-”No fuc***g good” … is pronounced by arek
Suroboyo using “No diancuk good”!
-Do you feel sick, tah ?

Other exclamation words of Java : ‘wo_’, ‘wah’,
‘w?’, ‘jian’, and ‘j?’

-W? lha this book is mine j?..!
-Wo_, only like that tho!
-Wah, expensive, tho?
-Jian, Paijem is so beautiful tenan.
Baca Lanjutannya…

Lawang wesi

Wak So lagek pertama kali iki nglencer nang TP ambek anak bojone.
Jenenge wong ndesit, Wak So ambek anak bojone gumun ndhelok sembarang kalir sing onok nang TP.

Tapi Wak So sak keluarga iku paling gumun ambek lawang wesi krum-kruman sing isok buka tutup dhewe, opo maneh isok muning mak tiing ! . . .

“Bes, opo iku jenenge . . .” takok Togog anake Wak So pas ndhelok lawang wesi iku.

“Aku yo gak weruh pisan nak . . .sak umur-umur lagek pisan iki onok lawang wesi koyok ngene.” jare Wak So.

Akhire Wak So sak keluarga ndoprok nang ngarepe lawang wesi iku ngematno ambek ndomblong.
Moro-moro onok wong wedhok tuwek sak pantaran bojone Wak So mencet tombol lawang wesi iku mau.
Mari ngono lawang wesine mbukak, terus wong wedhok tuwek iku mau mlebu nang ruangan cilik, terus pintune nutup maneh.
Mari muni ting ! . . ., terus onok ongko siji murup, loro, telu sampek papat mendeg.
Gak sui ongko papat murup maneh, terus telu, loro sampek siji mandeg.

Pas lawang wesine mbukak maneh, Wak So ambek anake kuaget tibake sing metu iku arek wedhok ABG ayu semlohe.
Wak So bingung ambek kemlecer ngematno arek wedhok iku.
Mari mikir dhiluk, Wak So mbengok nang anake, “Le !. . Ndhang cepetan Makmu lebokno kono . .”

Source: http://www.facebook.com/group.php?gid=43232867823#/topic.php?uid=43232867823&topic=8559

Note: TP (Tunjungan Plaza) salah satu mall terkenal di Surabaya

BAB II

MENYAPU DEBU KALBU

1. Mengapa Engkau Beramal

Berbagai jenis amal yang tampak adalah karena beragmnya keadaan yang berasal dari hati

Setiap amal selalu didahului dengan niat. Tanpa niat di dalam hatimu, maka mustahil engkau akan berbuat, tak mungkin engkau beramal. Niatmu adalah tolok ukur dari setiap amal perbuatanmu. Niatmu baik, aman menghasilkan buah yang baik, begitu pula sebaliknya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim diterangkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Sesungguhnya sah dan tidaknya suatu amal itu bergantung kepada niatnya. Maka barangsiapa yang berhijrah semata – mata taat kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya diterima Allah dan RasulNya. Orang yang berhijrah karena mencari keuntungan duniawi atau wanita yang ingin dikawininya, maka hijrahnya terhenti pada keinginannya itu.”

Salah satu yang menyebabkan hati berdebu karena amal erbuatan yang engkau lakukan disertai dnegan niat yang tidak tepat. Padahal sebagai orang yang ingin menapaki jalan makrifat, segala sesuatunya itu berujung kepada Allah. Amalan apapun merupakan pengorbanan hamba bagi sang Khalik.

Berhati – hatilah mengawali niat bagi amal perbuatan yang hendak engkau lakukan. Niatmu melakukan ibadah tetapi semata – mata untuk mencari surga, maka sama halnya sebagai pekerja kuli yang hanya ingin mendapatkan bayaran dari juragannya. Padahal seorang kuli yang bekerja dengan niat menyenangkan hati juragan, maka ia akan mendapatkan dua macam imbalan. Pertama imbalan berupa bayaran, dan kedua adalah sikap tuannya yang ‘senang’ kepadanya.

Begitu pula jika niatmu itu bermuara kepada Allah, insya Allah engkau akan mendapatkan segala – galanya. Sesuatu yang tak ternilai harganya itu tak perlu kau risaukan, karena Allah telah berjanji akan memberinya. Jangan terlalu diharapkan, dan seharusnya engkau serahkan; diberi atau tidak, itu urusanNya.

2. Amal Ibarat Sangkar, Ikhlas Ibarat Burungnya

Bentuk amal yang nyata itu hanyalah kerangka yang tegak, sedangkan hakikatnya adalah wujud rahasia keikhlasan.

Engkau telah menyadari bahwa setiap amal itu bergantung kepada niatnya dan bukan kepada perbuatanmu. Tetapi harus pula diingat, meskipun engkau sudah memasang niat, tetapi jika niat itu tidak ikhlas, maka ibarat sangkar tidak ada isinya. Ibarat tubuh tak berjiwa.

Amal merupakan penjelmaan dari niat dan keinginan di dalam hati. Ada niat dan keinginan di dalam hati, lalu diwujudkan dalam tindakan, maka barulah disebut amal. Amal tak akan gagal jika ada kecocokan dengan niat. Tetapi niat saja tidak cukup jika tidak ikhlas.

Sayid Sabiq pernah berkata, “Secara sengaja dengan ucapan, tindakan dan jihad karena hanya Allah semata dan mengharap ridhaNya saja. Inilah yang disebut ikhlas. Bukan karena niat mengharap harta, pujian, jabatan, atau kemasyhuran. Amal yang disertai dengan niat ikhlas akan terangkat dari sesuatu yang tercela.”

Sesungguhnya jika setiap tindakanmu itu kausertai dengan niat ikhlas hanya karena Allah, maka secara tidak langsung engkau telah menyapu debu dalam kalbu. Debu yang dimaksud adalah bahaya – bahaya ujub, riya’ dan sejenisnya.

Rasulullah mengajarkan tentang pokok – poko amalan ikhlas, “Sesungguhnya Allah tidak akan menilai bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat rupamu, namun Dia menilai hatimu. “ Lalu dalam sabdanya yang lain, “Manusia itu seluruhnya akan binasa, kecuali mereka yang beriman. Mereka yang beriman itu seluruhnya akan binasa, kecuali yang beramal. Dan mereka yang beramal seluruhnya akan binasa, kecuali mereka yang ikhlas.”

Ditinjau dari ikhlas dalam beramal taat, maka manusia itu dapat digolongkan menjadi beberapa kelompok. Keikhlasan golongan manusia ibadah berbeda dengan golongan muhibbin. Golongan ibadah beramal hanya kepada Allah semata, dengan berharap mendapatkan surga dan terhindar dari neraka.

Tingkatan manusia muhibbin lebih sempurna lagi. Mereka ini bermal disebabkan kecintaannya kepada sang Khaliq. Beramal bukan karena ingin mendapatkan pahala dan bukan karena takut kepada neraka.

Tingkatan makrifat lebih sempurna. Mereka bermal tetapi tidak merasakan beramal. Setiap amal yang baik itu diyakini sebagai dorongan dan kehendak Allah. Terhadap amal baik itu, ia tidak merasa mempunyai kekuatan atau energi sedikitpun. Sehingga, dia tidak mengharapkan apapun dari Allah. Semuanya terserah Allah.

Sekarang, cobalah engkau bermuhasabah (instropeksi diri), masuk dalam tingkatan manakah amal ibadahmu? Jika ingin menempuh jalan makrifat, maka engkau harus berusaha untuk menduduki tingkatan terakhir.

Maka pemahaman tentang amal, niat, dan keikhlasan haruslah direnungkan. Sesungguhnya amal itu hanyalah bentuk lahiriah yang ibaratnya snagkar. Sedangkan keikhlasan merupakan sumber kekuatan dan kehendakmu. Karena itu gantungkanlah harapanmu hanya kepada Allah semata!

3. Benih Amal Yang Ditanam Berbuah Kebahagian

Tanamlah wujudmu dalam bumi kerendahan tak dikenal, sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam buahnya jadi tidak sempurna

Jangan kau mengharap pohon akan berbuah baik jika benihnya engkau lempar begitu saja. Sesungguhnya benih yang dipilih dari yang terbaik dan ditanam, kelak akan menjadi pohon yang berbuah sempurna. Begitu pula dengan amal yang engkau lakukan, jika engkau lakukan dengan sembunyi – sembunyi, ibarat benih kau tanam dalam bumi, maka akan berbuah kebahagian.

Artinya, sebagai orang yang ingin menempuh jalan makrifat, hendaknya membiasakan diri untuk beramal ikhlas. Lebih sempurna lagi jika amalanmu itu tidak kau tampakkan secara lahiriah kepada sesama makhluk. Ini dapat menghindari dekilnya kalbumu dari sifat riya’.

Manusia yang beramal taat kepada Allah tetapi dengan ‘asal-asalan’, tetapi ditampak-tampakkan maka amal itu akan menjadi busuk. Jika engkau melakukan hal itu, tentu yang engkau dapatkan kelak bukanlah rahmat dari Allah, melainkan celaka. Amal semacam ini ibarat engkau melempar benih sembarangan dan dilihat orang yang lalu lalang.

Beramal dengan dibebani berbgai muatan, misalnya engku beramal ingin pahala, takut neraka, ingin mendapatkan penghargaan, terangkat nama baikmu dimata manusia, maka tentu buahnya asam. Bahkan benih yang engkau tanam berbuah pahit, pohonnya berduri sehingga justru menyusahkan dirimu sendiri.

Amal yang baik adalah yang dipilih dari benih yang baik. Artinya, amalan itu didasarkan pada syariat yang benar sebagaimana yang telah diterngkan dalam hadis shahih maupun Al Quran. Lalu ditanam di dalam tanah, yang artinya sembunyikan amal kebaikan itu jangan sampai manusia cenderung memberi pujian kepadamu. Pastikan bahwa hanya Allah jua yang tahu kebaikan yng telah kau amalkan. Inilah sebuah pohon yang kelak akan berbuh kebahagiaan.

Bel Rusak

Suatu hari Nita menelpon si Joni doinya: “Hallo Jon, aku butuh bantuan nich … bel rumahku rusak, dan aku tidak bisa memperbaikinya.”

Si Joni menjawab: “Tenang Nit, aku akan segera ke rumahmu untuk memperbaikinya. Tunggu setengah jam lagi, aku akan tiba dan pasti semua beres.”

Setengah jam kemudian, Joni belum nampak batang hidungnya, Nita masih sabar menunggu karena pikirnya, “Ahh ….. biasa jam karet”.

Satu jam kemudian Joni belum nampak, Dua Jam Joni tetap belum kelihatan, akhirnya Nita tidak sabar lagi, segera dia angkat telepon dan menelpon Joni lagi.

Nita (dengan nada sedikit marah): “Hei Jon, gimana sich, katanya setengah jam lagi akan ke sini, kok masih di rumah, dasar gombal!!!”

Si Joni balik menjawab dengan agak emosi juga: “Hei Nit, aku sudah sampai di rumahmu setengah jam setelah aku tutup telepon. Kamu tau nggak, lebih dari 10 kali aku pencet bel rumahmu tapi tidak ada seorangpun yang membukakan pintu. Ya sudah … aku pulang lagi.”

Nita : “??$$%??”

Anjing Pintar

Dua orang perempuan sedang meributkan anjing-anjing mereka. Keduanya saling menyombongkan kepintaran piaraan mereka itu.

Perempuan 1: “Anjing gua hebat banget, deh. Tiap pagi ia nungguin tukang koran, dan begitu loper itu datang, anjing gua langsung ngambil korannya dan membawanya ke tempat gua sarapan.”

Perempuan 2: “Ya, gua tahu itu.”

Perempuan 1 (kaget): “Darimana lu tahu?”

Perempuan 2 : “Anjing gua yang cerita.”

Sekilas tentang kandang tertutup

Untuk memberikan hasil produksi yang maksimal, pada peternakan modern, saat ini telah banyak digunakan kandang dengan sistem tertutup (Close house system). Kandang sistem tertutup merupakan kandang dimana kandang tertutup rapat, dan aliran udara masuk ataupun keluar (inner and outer) diatur keseimbangannya. Hal ini dilakukan untuk memberikan kenyamanan maksimal kepada ternak.

Adapun secara umum kandang sistem tertutup ini dibagi menjadi tiga tipe :

  1. Sistem Tunnel

Kandang ini hanya menggunakan tirai sebagai penutup dan kipas untuk menyedot udara keluar.

  1. Full closed House

Pada tipe ini, kandang sudah dilengkapi dengan sistem pendinginan(cooling system)

  1. Full automatic closed house

Kandang tipe ini hampir semuanya sudah dijalankan dengan otomatis, mulai dari sitem air minum, pakan, bahkan lighting (pencahayaannya).

Adapun kenyamanan, kesehatan, efisiensi, dan peningkatan kepadatan merupakan tujuan utama penggunaan sistem kandang tertutup ini.

Pada tingkat poultry breeder Stefanus Julius mengungkapkan kepada Trobos yang dikutip Green Farm menyebutkan fakta bahwa untuk luasan yang sama di tingkat breeder maupun broiler mampu menampung lebih banyak,dan populasi bisa dinaikkan sampai menyentuh angka 66%.

AGEMING AJI PRIYAYI JAWI (INTISARI KEARIFAN SERAT WEDHATAMA)

Prolog

Setiap orang Jawa, apalagi priyayi Jawa akan terpanggil untuk mengejar kesempurnaan dirinya. Hal itu dilakukan untuk memenuhi martabatnya selaku manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Jalan yang ditempuh pun tergantung pada gambaran tentang dirinya dan tentang kesempurnaan yang ingin dicapainya.

Untuk mencapai kesempurnaan yang dimaksud, manusia Jawa akan menyelaraskan  yang lahir dan yang batin, kepentingan dunia dan kepentingan akhiratnya. Mengatur yang lahir dengan melakukan tatakrama dan etiket yang mengarah pada etika. Sedang mengatur yang batin dengan mengendalikan “angkara”, egoisme, dan hawa nafsu yang bercokol dalam diri manusia, yang merupakan penghalang jalan ke arah kesempurnaan. Upaya tersebut merupakan “laku”, suatu tindakan yang harus dilaksanakan untuk mencapai hakikat batin “ngelmu”, kesempurnaan, dan pengertian akan hakikat hidup. Puncak kesempurnaan ialah bersatu dengan Tuhan, manunggaling kawula gusti, sesudah lepas dari hawa nafsu dan tak ragu lagi dengan percampuran suksma.

Sesuatu yang lahir harus diatur dengan tatakrama, karena yang lahir merupakan cermin keadaan yang batin. Dan dari perbuatan dan perkataan akan tercermin keadaan jiwa yang bersangkutan, baik yang baik maupun yang jelek. Untuk itulah, dalam pergaulan orang harus tahu “semu”, tahu “rasa”, isyarat, alamat, yang tersirat dalam tingkah laku orang lain, tenggang rasa, hati – hati, hingga tidak memberi kesan jelek atau melukai hati orang lain.

Orang yang tidak mengatur yang batin akan terlihat pada sikap – sikapnya, antara lain : tak terkendali kata – katanya, apabila berbicara seenaknya sendiri, tidak mau dikatakan bodoh, selalu mencari pujian orang lain, dan tak mau kalah alias mau menang sendiri.

Sedangkan yang batin diupayakan kesempurnaannya dengan menguasai yang lahir, yakni dengan berpuasa (mencegah makan dan tidur), menyepi, membersihkan hati untuk mencapai keheningan hati dan pikiran karena hanya didalam keheningan hatilah orang akan menyatu dengan Tuhan. Sikap – sikap yang menyertai “laku” itu adalah merasa “ikhlas apabila kehilangan”, “tidak marah kalau disakiti orang lain”, dan “menyesali kesalahan, murah hati dan senantiasa pasrah kepada Tuhan”.

Sementara kesempurnaan manusia diukur dari jauh dan dekatnya dengan sesama dan dengan Tuhan. Oleh sebab itu, manusia harus tahu agama, cara bertindak terhadap sesama dan terhadap Tuhan, pendeknya harus mengusahakan damai dengan sesama dan Tuhan.

Begitulah, serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV (1811-1881) yang merupakan salah satu kitab pegangan bagi orang Jawa. Apalagi kitab yang memuat ageming aji priyayi Jawi ini membicarakan tentang manusia, cita – citanya, hubungannya dengan sesama manusia, dan hubungannya dengan Tuhan dalam upaya mencapai kesempurnaan tertinggi selaku manusia.

Wedhatama berarti “Pelajaran Utama”. Sebuah buku berbahasa Jawa dengan tembang – tembang beraneka lagu ini mengandung ajaran yang sangat bagus, menyangkut tingkah laku lahir maupun batin. Meskipun demikian, isi yang terkandung dalam buku ini juga sangat baik dan bermanfaat bagi mereka yang tidak mengerti bahasa Jawa. Itulah sebabnya tulisan ini menyajikan terjemahan teks Indonesianya, agar isinya bermanfaat bagi kalangan seluas mungkin.

Adapun pokok isi ajaran “Wedhatama” pada intinya dibagi menjadi 4, yakni : Baca Lanjutannya…